Lingkungan Sehat, Pangan Berdaulat, Ekonomi Kuat
Oleh : Dr Susetya Herawati, ST, MSi
Reporting by POINT Consultant
Sebagaimana diuraikan dalam Strategi Pembangunan di Sektor Pertanian Dalam Rangka Ketahanan Ekonomi Nasional (Herawati, 2024), sektor pertanian merupakan fondasi ketahanan ekonomi bangsa. Dua tahun kemudian, tulisan Dari Ketahanan ke Kedaulatan Pangan: Mengapa Swasembada Beras Bukanlah Garis Akhir ? (Herawati, 2026) menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak cukup bila distribusi kekuasaan tetap timpang.
Kedua tulisan tersebut adalah dua sisi dari satu mata uang yang sama: yang pertama membahas strategi pembangunan, yang kedua membedah politik pangan. Tulisan ini berupaya menautkan keduanya dalam satu kerangka kebijakan publik dan lingkungan. Karena pangan yang berdaulat tidak mungkin tumbuh di atas tanah yang sakit.
Ketahanan Ekonomi dan Realitas Pangan yang Rapuh.
Indonesia patut mengapresiasi capaian swasembada beras: surplus 3,52 juta ton pada 2026 dan impor beras konsumsi nol. Namun euforia itu menyamarkan persoalan yang lebih dalam. Di balik surplus beras, ketergantungan struktural tetap menggantung: gandum 100% impor, kedelai 97% impor, gula 70% impor. Nilai impor pangan melonjak dari US$ 2,47 miliar pada 2001 menjadi US$ 19,63 miliar pada 2024.
Lebih ironis lagi, gandum menyumbang lebih dari 25% konsumsi energi pangan nasional, tetapi secara agronomis tidak dapat ditanam secara ekonomis di wilayah tropis. Ketika pemerintah mengklaim “swasembada pangan”, gandum sengaja dikeluarkan dari perhitungan. Benar secara teknis, tetapi menyesatkan secara substansi.
Artinya jelas: ketahanan ekonomi yang dibangun di atas surplus beras saja sangat rapuh. Strategi pembangunan pertanian tidak cukup hanya mengejar tonase beras. Ia harus menjawab tiga hal sekaligus: mengurangi ketergantungan impor, memperkuat pelaku usaha tani skala kecil, dan melindungi benih lokal dari dominasi korporasi multinasional.
Struktur Lahan Sempit: Akar Kerentanan.
Data Sensus Pertanian BPS 2023 mempertegas potret yang memprihatinkan. Dari 27,80 juta petani pengguna lahan, sebanyak 17,25 juta orang atau 62% hanya menguasai lahan kurang dari 0,5 hektare. Sementara yang menguasai ≥0,5 hektare hanya 10,55 juta orang atau 38%.
Jumlah Rumah Tangga Petani mencapai 27,37 juta RT. Artinya, lebih dari separuh rumah tangga pertanian kita bertumpu pada lahan yang sangat sempit. Fragmentasi kepemilikan seperti ini menjadi akar persoalan: pendapatan rendah, akses mekanisasi terbatas, dan kerentanan tinggi terhadap gejolak harga pangan.
Dari perspektif ketahanan pangan nasional, tantangan utama yang masih dihadapi Indonesia terletak pada empat hal: peningkatan produksi, konsolidasi lahan, regenerasi pelaku usaha tani, dan peningkatan skala ekonomi usaha tani. Selama mayoritas masih terjebak di lahan sempit, subsidi pupuk atau program apapun akan mentok di tengah jalan. Tanpa perluasan skala, mereka tidak punya ruang untuk naik kelas.
Incrementalism: Jerat Tambal Sulam Kebijakan Publik.
Charles E. Lindblom dalam teori kebijakan publiknya menyebut kecenderungan pemerintah mengambil kebijakan lewat incrementalism: langkah kecil, tambal sulam, muddling through. Bukan perubahan radikal, tetapi perbaikan sedikit demi sedikit yang “aman secara politik”.
Dalam pertanian, wajah incrementalism itu tampak: subsidi pupuk yang datang terlambat, program diversifikasi pangan yang berhenti di slogan, redistribusi lahan yang skalanya terbatas. Realistis? Ya. Cukup? Tidak.
Incrementalism berbahaya ketika ia dipakai untuk menunda masalah struktural. Ketergantungan gandum dan kedelai tidak bisa diselesaikan dengan subsidi sesaat. Usaha tani di lahan 0,7 hektare tidak akan keluar dari kemiskinan hanya karena pupuk murah. Untuk menuju kedaulatan pangan, diperlukan kebijakan transformasional, bukan sekadar incremental.
Gas Metana: Bom Waktu yang Menggerogoti Ketahanan.
Ketahanan ekonomi adalah omong kosong jika lingkungan sakit. Sampah yang menumpuk di TPA seperti Bantar Gebang melepas 6,5ton gas metana per jam. Metana 80 kali lebih kuat dari CO₂ dalam memicu pemanasan global. Dampaknya langsung menampar pertanian.
Pemanasan iklim ekstrem membuat pola hujan kacau, banjir dan kekeringan silih berganti. Petani kehilangan kepastian musim tanam. Produktivitas runtuh karena lindi mencemari tanah, kesuburan menurun, gagal panen meningkat. Kesehatan terancam karena metana menggantikan oksigen, memicu sesak napas, sakit kepala, hingga risiko ledakan.
Yang paling mengerikan adalah warisan beracunnya. Metana terus dilepas selama puluhan tahun. Generasi mendatang mewarisi bumi yang lebih panas dan lahan yang makin tandus. Jika tidak dipotong dari hulu, bom metana ini akan meledak dalam bentuk krisis pangan, kesehatan, dan ekonomi sekaligus.
TRIBUMI: Jembatan dari Strategi ke Aksi.
Kerangka TRIBUMI—Teladan, Kesadaran, Aksi—menjadi jawaban yang menghubungkan strategi pembangunan pertanian dengan keberlanjutan lingkungan.
Teladan menuntut pemerintah, perguruan tinggi, dan komunitas menjadi contoh nyata. Tidak cukup berpidato soal pengelolaan sampah, tetapi memulai dari memilah sampah di kantor dan kampus sendiri. Kesadaran membangun pemahaman logika sederhana: sampah rumah tangga hari ini sama dengan metana besok dan gagal panen lusa. Pangan dan sampah adalah satu rantai. Aksi menuntut transformasi sampah menjadi biogas atau pupuk organik sebagai langkah konkret. Ia memotong emisi metana di hulu sekaligus mengembalikan nutrisi ke tanah untuk memperkuat ketahanan pangan.
Dengan TRIBUMI, strategi pertanian tidak lagi terjebak pada pertanyaan berapa ton produksi, tetapi naik kelas ke produksi yang berkelanjutan.
Jalan Transformasional: Melampaui Incrementalism.
Jika incrementalism Lindblom adalah diagnosis, maka kedaulatan pangan adalah resepnya. Ada lima langkah transformasional yang harus ditempuh.
Reformasi agraria dan konsolidasi lahan harus melindungi lahan produktif dari alih fungsi serta membangun bank tanah untuk pelaku usaha tani skala kecil agar mereka punya kepastian ruang hidup dan skala ekonomi yang layak. Proteksi dilakukan lewat tarif impor yang adil, menjaga Harga Pokok Pembelian yang menguntungkan, serta menolak pasal perdagangan yang memaksa banjir impor murah. Bank benih nasional harus menjamin akses benih gratis untuk usaha kecil, melindungi hak menyimpan dan menukar benih, serta mendorong riset varietas lokal unggul adaptif iklim.
Mengakhiri dominasi gandum berarti mengembalikan sagu, sorgum, singkong, dan umbi-umbian sebagai pangan pokok. Indonesia kaya, tetapi lupa. Regenerasi pelaku usaha tani dilakukan lewat investasi serius di SMK Agribisnis dan teaching factory. Yang dibutuhkan adalah generasi muda yang melek teknologi, bukan sekadar pewaris lahan.
Penutup: Dari Ketahanan ke Kedaulatan, dari Tambal Sulam ke Transformasi.
Ketahanan ekonomi nasional tidak akan kokoh bila pangan masih bergantung pada impor dan lingkungan terus diracuni bom metana dari sampah. Teori Lindblom mengingatkan: incrementalism memang aman, tetapi tidak pernah memenangkan perang melawan ketimpangan struktural. TRIBUMI mengingatkan: pangan dan lingkungan adalah satu ekosistem yang tak terpisahkan.
Generasi yang dididik hari ini akan menentukan jawabannya: apakah Indonesia akan benar-benar merdeka dari jerat impor pangan, atau sekadar menjadi negeri yang kenyang, tetapi tidak pernah berdaulat. Gagasan dalam tulisan ini bertumpu pada dua karya sebelumnya tentang strategi pertanian dan kedaulatan pangan, serta diperkaya data terbaru BPS 2023 dan diskusi dengan berbagai pihak agar tetap membumi dan bisa diterjemahkan menjadi langkah nyata.
Penulis: Tim Ahli Penggiat Lingkungan Rumah SOPAN


