BENARKAH 80% AL-QUR’AN DIAMBIL DARI ALKITAB/BIBEL ?
Klaim bahwa 80% isi Al-Qur’an diambil atau disalin dari Alkitab (Bibel) adalah tidak akurat secara ilmiah.
Angka 80% tersebut tidak berbasis metodologi statistik maupun analisis intertekstual yang sah. Dalam kajian akademik modern (Quranic Studies dan Late Antique Studies), hubungan antara Al-Qur'an dan Alkitab dipahami melalui kacamata intertekstualitas, subversi naratif, dan dialog teologis, bukan penyalinan (copy-paste).
1. Masalah Metodologis Klaim "80%"
Klaim kuantitatif 80% runtuh ketika diuji secara tekstual dan metodologis:
- Tidak Ada Kutipan Langsung: Al-Qur'an tidak mengandung salinan verbatim (kata demi kata) dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.
- Perbedaan Struktur dan Bahasa: Alkitab ditulis terutama dalam bahasa Ibrani, Aram, dan Yunani dengan gaya historiografi atau epik naratif. Al-Qur'an ditulis dalam bahasa Arab fasih (fusha) dengan gaya retoris-homiletis (khutbah/pembacaan moral).
- Ketiadaan Bukti Kuantitatif: Tidak ada studi linguistik atau perangkat lunak analisis teks yang pernah mengonfirmasi angka 80% persamaan materiil antara kedua teks.
2. Kajian Historis & Intertekstual (Konteks Late Antiquity)
Peneliti modern seperti Angelika Neuwirth, Nicolai Sinai, dan Michael E. Pregill menempatkan Al-Qur'an dalam lingkungan budaya dan keagamaan Late Antiquity (Masa Antik Akhir, abad ke-3 s.d. 7 M) di Timur Dekat.
- Tradisi Lisan Bersama (Shared Heritage): Jazirah Arab pada abad ke-7 bukanlah wilayah terisolasi. Kisah-kisah Nabi Abraham (Ibrahim), Moses (Musa), Noah (Nuh), dan Jesus (Isa) merupakan warisan lisan yang sudah umum dikenal oleh masyarakat Semit, baik Yahudi, Kristen (Nestorian, Monofisit), maupun Hanif.
- Respon Terhadap Budaya Zaman: Al-Qur’an berinteraksi dengan audiens yang sudah memiliki pengetahuan dasar tentang narasi-narasi Biblikal. Oleh karena itu, Al-Qur'an tidak perlu mengutip teks Alkitab secara utuh, melainkan merujuk pada elemen yang sudah dikenal untuk menyampaikan pesan teologis baru.
3. Transformasi Naratif dan Perbedaan Teologis Utama
Meskipun memuat tokoh-tokoh yang sama, Al-Qur’an mereinterpretasi dan mengubah fokus narasi secara mendasar (naratif transformatif):
1. Karakteristik / Topik
a. Gaya Narasi
b. Penggambaran Para Nabi
c. Konsep Kematian Yesus (Isa)
d. Monoteisme (Teologi)
2. Alkitab (Bibel)
a. Detail kronologis, silsilah keluarga, setting geografis spesifik.
b. Menampilkan kelemahan manusiawi nabi (misal: kesalahan moral atau ketidakpuasan).
c. Penyaliban dan Kebangkitan sebagai doktrin penebusan dosa universal.
d. Pengenalan Trinitas pada Perjanjian Baru (Bapa, Anak, Roh Kudus).
3. Al-Qur’an
a. Fokus pada pelajaran moral, peringatan (tadhkirah), dan tauhid. Detail sejarah minim.
b. Mengedepankan maqam kepemimpinan moral ('ismah) dan keteladanan murni para nabi.
c. Menolak penyaliban fisik/pembunuhan Isa (QS. An-Nisa: 157) dan menolak konsep penebusan dosa warisan.
d. Ketauhidan mutlak (Tawhid/Wahdaniyah); kritik eksplisit terhadap Trinitas dan doktrin Anak Allah (QS. Al-Ikhlas, Al-Ma'idah: 72-75).
KESIMPULAN
Al-Qur’an berinteraksi secara aktif dengan tradisi Yahudi-Kristen yang berkembang sebelum kemunculannya, namun interaksi ini bersifat dialogis, korektif, dan transformatif.
Menyebut 80% Al-Qur'an "diambil" dari Bibel mengabaikan keunikan bahasa, pandangan dunia teologis (worldview), hukum, dan struktur retoris Al-Qur'an yang berdiri secara mandiri.
Berikut penulis lampiran paparan BENARKAH 80% AL-QUR’AN DIAMBIL DARI ALKITAB/BIBEL ? (FREE DOWNLOAD PDF) :

