Perusahaan asal Amerika Serikat, Energy Three International (E3i), berminat berinvestasi untuk membangun fasilitas pengolahan sampah menjadi bahan bakar (waste to fuel) di wilayah aglomerasi Solo Raya, Jawa Tengah
By, POINT Consultant
(R Try Priyo Noegroho)
Energy Three International (E3i) adalah perusahaan asal Amerika Serikat yang berencana berinvestasi untuk membangun fasilitas pengolahan sampah menjadi bahan bakar (waste to fuel) di wilayah Solo Raya, Jawa Tengah.
Detail Rencana Proyek
Lokasi Proyek: Direncanakan berlokasi di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, dengan kebutuhan lahan sekitar 25 hektare dan tahap awal seluas 20 hektare.
- Kapasitas: Mampu mengolah sekitar 1.000 ton sampah per hari untuk mengurangi volume sampah menumpuk di Solo Raya.
- Teknologi: Menggunakan teknologi baru yang ramah lingkungan dengan emisi nol (zero emission) untuk diolah menjadi biofuel dan energi.
- Dampak: Membantu target Jawa Tengah menuju zero waste pada 2028 serta menyerap sekitar 300 tenaga kerja. Informasi resmi mengenai penjajakan ini disampaikan saat pertemuan perwakilan E3i ASEAN, Medhat Omran, dengan Gubernur Jawa Tengah pada Agustus 2026.
Detail Proyek Pengolahan Sampah
1. Investor: Energy Three International (E3i) asal Amerika Serikat.
2. Lokasi Proyek: Kawasan aglomerasi Solo Raya (mencakup Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Klaten).
3. Kapasitas Pengolahan: Ditargetkan mencapai sekitar 1.000 ton sampah per hari.
4. Teknologi: Menggunakan konsep zero emission untuk mengubah limbah menjadi bahan bakar (biofuel) dan energi ramah lingkungan.
5. Tujuan Utama: Menyelesaikan masalah tumpukan sampah lama di Solo Raya dan mendukung target Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencapai zero sampah pada tahun 2028.
6. Dampak Tambahan: Diproyeksikan menyerap hampir 300 lapangan kerja baru.
Berikut adalah video liputan saat Gubernur Jawa Tengah menyambut perwakilan dari Energy Three International (E3i) untuk membahas kerja sama pengolahan sampah ini:
Kerja sama antara pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan perusahaan asal Amerika Serikat, Energy Three International (E3i), berfokus pada pembersihan tumpukan sampah lama yang selama ini menjadi beban lingkungan di wilayah aglomerasi Solo Raya.
Mengapa Proyek ini Penting ?
Fokus pada Sampah Lama: Pemerintah daerah sebenarnya sudah punya rencana mengolah sampah baru menjadi listrik. Namun, gunungan sampah lama yang sudah bertahun-tahun menumpuk belum punya solusi. Kehadiran E3i ditujukan khusus untuk menghabiskan sampah lama tersebut.
- Kelebihan Beban: Wilayah Solo Raya menghasilkan hampir 3.000 ton sampah setiap harinya. Fasilitas baru ini akan membantu mengurangi beban tersebut secara signifikan dengan mengolah 1.000 ton sampah per hari.
- Lokasi Pabrik: Fasilitas pengolahan ini direncanakan akan dibangun di Kabupaten Boyolali dengan kebutuhan lahan sekitar 25 hektare.
Bagaimana Teknologi "Waste to Fuel" Bekerja ?
1. Secara umum, teknologi waste to fuel mengubah sampah padat yang tidak bernilai menjadi bahan bakar alternatif (seperti biofuel atau pelet RDF) melalui beberapa tahapan sederhana:
[Pemilahan Sampah] ➔ [Pencacahan & Pengeringan] ➔ [Proses Konversi] ➔ [Menjadi Bahan Bakar]
2. Pemilahan: Sampah dipisahkan antara yang organik dan non-organik (seperti plastik dan kertas).
3. Pencacahan & Pengeringan: Sampah dihancurkan menjadi ukuran kecil dan dikeringkan untuk menghilangkan kadar airnya.
4. Konversi Ramah Lingkungan: Sampah diproses menggunakan teknologi tinggi berkategori zero emission (tanpa asap beracun yang dilepas bebas ke udara).
5. Hasil Akhir: Sampah berubah menjadi bahan bakar ramah lingkungan yang bisa menggantikan batu bara di sektor industri.
Rencana Lokasi Pengolahan Sampah Solo Raya
Berikut adalah peta wilayah aglomerasi Solo Raya yang sampahnya akan dikumpulkan dan dibawa ke pusat pengolahan di Boyolali :
Waste to Energy (WTE): Jawaban Atas Permasalahan Sampah ?
Adanya nya kekhawatiran soal penggunaan bahan bakar fosil dan dampaknya terhadap pemanasan global, banyak negara yang mulai mengeksplor dan bahkan berinvestasi pada sumber energi alternatif lain.
Salah satu alternatifnya ialah waste-to-energy, yang di satu sisi bisa menjadi pilihan sumber energi yang lebih berkelanjutan dibanding bahan bakar fosil, sekaligus membantu menyelesaikan permasalahan sampah yang tengah kita hadapi.
Di sisi lain, ada juga perdebatan soal topik waste-to-energy ini, terutama perihal emisi yang dikeluarkan dari hasil insinerasi, yang dikhawatirkan malah bisa menihilkan keuntungan yang ditawarkan dari teknologi ini.
Apa Itu Waste-to-Energy ?
Apakah Anda tahu apa itu Waste to Energy atau WTE? Waste-to-Energy adalah proses menghasilkan energi dalam bentuk panas atau listrik dari sampah. (Proses ini juga disebut Energi dari Sampah atau EfW).
Dengan menggunakan berbagai macam teknologi yang terus dikembangkan, metode ini bertujuan untuk mengkompress dan membuang sampah sembari menghasilkan energi di saat yang sama.
Skema ilustrasi mengenai bagaimana fasilitas Waste-to-Energy facilities bekerja. Sumber: www.energycouncil.com.au
Fasilitas waste-to-Energy membakar sampah domestik dan sejenis sampah domestik yang tidak bisa dihindari atau didaur ulang. Aktivitas pembakaran dari fasilitas tersebut kemudian akan menghasilkan energi, bisa dalam bentuk uap, listrik, atau air panas.
Tipe-tipe Teknologi dalam Mengubah Sampah menjadi Energi
1. Teknologi Termal
- Depolymerization/Hydrous Pyrolysis : Sebuah metode yang memanfaatkan dekomposisi termal, dimana dengan adanya air, komponen organik dipanaskan dalam temperatur tinggi
- Gasification : Mengkonversi substansi yang mengandung karbon menjadi karbon dioksida, karbon monoksida, serta hidrgoen. Proses ini, layaknya insinerasi, menggunakan temperatur tinggi. Perbedaannya adalah tidak ada pembakaran.
- Pyrolysis : Mirip dengan hydrous pyrolysis, tetapi bedanya tidak menggunakan oksigen. Metode pyrolysis menggunakan sampah dari agrikultur atau sampah organik dari industri.
- Plasma Arc Gasification : Obor plasma digunakan untuk mengionisasi gas sehingga akan diperoleh gas sintesis. Proses ini menghasilkan listrik sembari mengompresi sampah.
2. Teknologi Non-Termal
Fermentasi: Metode ini menghasilkan perubahan kimiawi pada substansi organik melalui enzim dalam keadaan tidak ada oksigen.
Anaerobic digestion: Menggunakan mikroorganisme untuk menghancurkan substansi yang bisa terbiodegradasi. Metode ini digunakan baik di tingkat domestik maupun tingkat komersil untuk menangkap pelepasan energi yang dihasilkan saat prosesnya.
Manfaat dan Potensi Waste-to-Energy
Dalam konteks negara-negara Eropa, fasilitas Waste-to-Energy bisa memasok 18 juta penduduk dengan energi listrik dan 15.4 juta penduduk dengan energi panas (heat).
Energi tersebut berdasarkan pada 90 juta ton sampah domestik dan sejenis sampah domestik yang dikelola di tahun 2015 di Eropa.
Confederation of European Waste-to-Energy Plants mengatakan bahwa cara untuk mengelola sampah residu (sampah yang kotor, material yang terkontaminasi, material yang terdiri dari bahan campuran, material daur ulang yang turun kualitasnya, serta material yang mengandun bahan beresiko tinggi) antara lain melalui landfilling atau WtE.
Ketika membuang sampah ke TPA (landfill) sudah bukan menjadi pilihan, WtE menawarkan beberapa manfaat, seperti mengurangi ketergantungan pada bahan bakal fosil, menghemat jutaan ton karbon dioksida, memberikan sumbangsih pada swasembada energi, serta menyediakan alternatif energi yang berkelanjutan, lokal, rendah karbon, serta berbiaya rendah.
Organisasi CEWEP juga menyatakan bahwa metode daur ulang maupun WtE menjadi saling melengkapi dalam rangka mengurangi sampah yang berakhir di TPA.
Negara-negara di Eropa seperti Austria, Belgium, Denmark, Swedia, dan Finlandia telah menerapkan kebijakan menutup TPA dan mengintegrasikan daur ulang dan WtE dalam sistem pengelolaan sampah mereka.
Perdebatan dan Kekurangan mengenai Metode Waste-to-Energy
Meski WtE menawarkan banyak manfaat, proses pengelolaan sampah berbasis pembakaran kian menjadi subyek perdebatan di berbagai belahan dunia.
Hal ini karena jika tidak adanya mekanisme kontrol yang efektif, polutan yang berbahaya bisa dihasilkan dan terlepas dari fasilitas pembakran WtE dan mencemari udara, tanah, serta air. Hal ini tentunya akan berdampak negatif terhadap manusia dan lingkungan itu sendiri.
Contoh fasilitas Waste-to-Energy. Sumber: www.afconsult.com/
Dari segi kesehatan, sistem insinerasi menghasilkan berbagai macam polutan yang bisa berdampak buruk pada kesehatan manusia.
Dari polutan tersebut, dioksin lah yang merupakan polutan paling berbahaya, yang bisa mempengaruhi kesehatan orang-orang yang tinggal di sekitar fasilitas insinerasi ataupun dalam cakupan area yang lebih luas.
Menurut United Nations Environment Programme (UNEP), insinerator merupakan sumber utama penghasil dioksin yang terlepas ke udara.
Selain itu, sebuah studi terbaru dari Environmental Protection Agency (EPA) mengidentifikasi dioksin sebagai penyebab berbagai jenis kanker.
Dari segi ekonomi, sebagian besar investasi pada sektor WtE dialokasikan untuk sistem pengendalian polusi/emisi beracun.
Namun dalam konteks negara berkembang, isu lain muncul terkait jenis sampah yang bisa digunakan untuk WtE, dimana nilai kalori rata-ratanya belum mencapai standar yang diperlukan untuk insinerasi.
Jika ujung-ujungnya negara harus mengimpor sampah sebagai bahan bakar insinerator, maka prosesnya akan menjadi jauh lebih mahal.
Terakhir dan tidak kalah penting, membangun fasilitas WtE dari nol membutuhkan biaya yang amat mahal. Selain itu pakar insinerasi juga menyatakan bahwa agar operasi fasilitas WtE bisa berjalan mulus dari segi ekonomi, maka insinerator harus membakar setidaknya 1000 ton sampah per hari.
Lagi-lagi, biaya untuk membangun fasilitas WtE dengan kapasitas tersebut memakan biaya sekitar 100 juta dolar.
Lalu Kesimpulannya ?
Jelas bahwa Waste to Energy (WtE) sendiri tidak akan cukup untuk menangani permasalahan sampah yang kita hadapi. Dan ya, baik WtE dan daur ulang harus saling melengkapi di dalam satu sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi.
Selain itu, negara-negara yang kian menghadapi permasalahan yang sama terkait sampah harus tetap berpegang teguh pada hirarki pengelolaan sampah, dimana opsi pengurangan sampah dari sumber menjadi prioritas utama, dan opsi landfill serta WteE menjadi opsi terakhir.
Sebagai perusahaan yang menyediakan solusi pengelolaan sampah yang bertanggung jawab, Waste4Change bisa membantu organisasi/perusahaan yang tertarik untuk mengekplorasi alternatif teknologi WtE dengan mengadakan studi kelayakan terkait prospek dan kesesuaian teknologi pengelolaan sampah tersebut dengan kebutuhan perusahaan/klien.
Program Solid Waste Management Research kami akan berusahan untuk mencarikan solusi dan rekomendasi terbaik terkait teknologi WtE yang paling memungkinkan untuk digunakan, dengan pertimbangan yang meninggalkan dampak negatif seminimal mungkin.
Akan tetapi untuk saat ini, kami juga menekankan pada pentingnya implementasi prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
English Version read here.
Click here :
https://waste4change.com/blog/waste-to-energy-can-it-be-the-answer-to-our-waste-problem/
Referensi:
https://www.cewep.eu/wp-content/uploads/2018/07/Interactive-presentation-2018-New-slides.pdf
https://waste4change.com/blog/waste-to-energy-wte-indonesia/
____
Ubah Sampah Jadi Bahan Bakar Alternatif, Asiana Technologies Kenalkan Teknologi Waste to Fuel
Teknologi waste-to-fuel atau pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif
Asiana Technologies resmi memperkenalkan teknologi waste-to-fuel atau pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif sebagai upaya mendukung percepatan transisi energi bersih di Indonesia. Teknologi ini ditawarkan sebagai solusi atas persoalan penumpukan sampah sekaligus tingginya ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Perusahaan yang bergerak di bidang energi baru terbarukan (EBT) itu menyatakan telah mengembangkan fasilitas pengolahan limbah padat yang mampu mengubah berbagai jenis sampah menjadi bahan bakar alternatif dengan nilai kalor di atas 3.500 kkal/kg. Bahan baku yang diolah meliputi sampah rumah tangga, landfill, pasar tradisional dan modern, limbah industri, hingga limbah perkebunan, pertanian, dan peternakan.
Asiana Technologies juga mengungkapkan telah menjalin kerja sama dengan sejumlah pemerintah daerah untuk mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif, di antaranya Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng serta Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk TPA Sarimukti. Selain itu, perusahaan telah menandatangani kerja sama penjualan EBT dengan Indocement untuk memasok hingga 10.000 ton bahan bakar alternatif per hari ke lima pabrik perusahaan tersebut di berbagai provinsi di Indonesia.
CEO sekaligus Inventor Asiana Technologies, Poltak Sitinjak, mengatakan teknologi waste-to-fuel yang dikembangkan perusahaan tidak hanya bertujuan mengurangi volume limbah, tetapi juga menghasilkan bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan untuk berbagai sektor industri, seperti pembangkit listrik, semen, petrokimia, keramik, kaca, dan baja.
'Kami percaya bahwa sampah bukanlah akhir dari sebuah siklus, melainkan awal dari energi baru. Melalui teknologi waste-to-fuel yang kami kembangkan, Asiana Technologies tidak hanya mengurangi volume limbah di berbagai sektor, tetapi juga mendistribusikan bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan untuk berbagai Industri Pembangkit Listrik, Industri Semen, Pertrochemical, Keramik, Gelas, Baja dan lain sebagainya,' ujar Poltak Sitinjak, Senin (29/6/2026).
Menurutnya, teknologi tersebut mengusung prinsip ekonomi sirkular dengan meminimalkan jejak karbon dan memaksimalkan efisiensi penggunaan sumber daya. Bahan bakar alternatif yang dihasilkan diklaim memiliki karakteristik kompetitif dan dapat menjadi substitusi sebagian maupun sepenuhnya bagi bahan bakar konvensional.
Dengan memanfaatkan berbagai sumber limbah dari sektor hulu hingga hilir, Asiana Technologies optimistis inovasi ini dapat membantu pemerintah dan sektor swasta dalam mendukung pencapaian target Net Zero Emission (NZE) melalui pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
Source :
https://www.waspada.id/berita/ubah-sampah-jadi-bahan-bakar-alternatif-asiana-technologies-kenalkan-teknologi-waste-to-fuel
By, POINT Consultant













