AGNOTOLOGI DALAM PENDIDIKAN
Dinn Wahyudin
Bayangkan sebuah sekolah memasang spanduk besar: “100% Siswa Lulus!”. Angka itu tentu menggembirakan. Orang tua senang. Sekolah bangga. Dan masyarakat pun melihatnya sebagai tanda keberhasilan. Ada satu pertanyaan sederhana yang mungkin terlupakan. Apakah semua siswa benar-benar sudah mampu membaca dengan baik, berpikir kritis, memecahkan masalah, dan menggunakan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari?
Di sinilah kita mulai memahami satu persoalan penting dalam pendidikan. Kadang-kadang “apa” yang terlihat bukanlah seluruh kenyataan. Angka bisa menunjukkan keberhasilan, tetapi pada saat yang sama dapat membuat persoalan lain menjadi kurang terlihat. Kita tahu apa yang ”diukur”, tetapi belum tentu tahu apa yang ”tidak terukur”.
Fenomena inilah yang berkaitan dengan agnotologi. Agnotologi merupakan kajian tentang bagaimana ketidaktahuan dapat diproduksi, dipelihara, atau bahkan dianggap sebagai sesuatu yang wajar dalam suatu sistem pengetahuan. Konsep ini dikembangkan oleh sejarawan ilmu Robert N. Proctor melalui gagasan the cultural production of ignorance.
Ketidaktahuan tidak selalu berarti tidak adanya informasi. Dalam kondisi tertentu, ada informasi yang sangat ditonjolkan, sementara informasi lain justru kurang terlihat.
Agnotologi tidak hanya mengajak kita bertanya, Apa yang kita ketahui?, tetapi juga pertanyaan yang lebih kritis, Mengapa kita tidak tahu apa yang tidak kita ketahui? (Proctor & Schiebinger, 2008).
Ketika Pendidikan Terlihat Berhasil
Dalam pendidikan, gejala ini menarik untuk dicermati. Sekolah bisa terlihat sangat berhasil karena nilai tinggi, angka kelulusan meningkat, peringkat naik, akreditasi baik, dan berbagai target administratif tercapai. Di balik angka-angka itu mungkin masih ada persoalan. Kemampuan berpikir kritis belum kuat. Kesenjangan belajar masih lebar, atau siswa belum mampu menggunakan pengetahuannya dalam kehidupan nyata.
Pendidikan bisa tampak berhasil di atas kertas, tetapi belum tentu benar-benar berhasil di ruang kelas.
Contohnya adalah ketika nilai ujian menjadi ukuran utama keberhasilan. Nilai memang penting. Tetapi nilai tinggi belum otomatis berarti siswa mampu berpikir kritis, memecahkan masalah. Mampu bekerja sama, berkomunikasi, berkreasi, atau memiliki karakter yang baik. Angka tidak harus salah untuk menjadi menyesatkan. Kadang-kadang angka justru menjadi ”tirai” yang menutupi kenyataan pendidikan yang lebih kompleks.
Hal yang sama dapat terjadi pada grade inflation atau inflasi nilai. Nilai siswa meningkat karena standar penilaian semakin longgar. Tetapi peningkatan itu belum tentu diikuti peningkatan kompetensi. Oleh sebab itu kita perlu membedakan antara ”prestasi” yang benar-benar meningkat dan ”angka prestasi” yang meningkat.
Ketika Indikator Menjadi Tujuan
Masalah lain muncul ketika sekolah terlalu fokus mengejar indikator. Misalnya, mengejar angka kehadiran, kelulusan, peringkat, atau capaian tertentu. Akibatnya sekolah bisa saja berhasil memenuhi target. Tetapi sekolah belum tentu berhasil memperbaiki akar persoalan pembelajaran. Inilah yang sering disebut gaming the metrics. Sibuk memenuhi angka, tetapi lupa pada tujuan sebenarnya.
Dalam penelitian pendidikan pun ada risiko serupa. Hasil penelitian yang menunjukkan keberhasilan program biasanya lebih menarik untuk dipublikasikan dibandingkan hasil yang negatif atau tidak signifikan. Akibatnya masyarakat bisa memperoleh gambaran bahwa suatu program selalu berhasil. Padahal kenyataannya jauh lebih beragam. Keterbatasan penelitian dan hasil yang tidak sesuai harapan juga merupakan bagian penting dari pengetahuan ilmiah.
Keberhasilan Semu
Dari sini muncul istilah keberhasilan semu pendidikan (pseudo-success). Angka partisipasi naik. Jumlah lulusan bertambah. Ruang kelas semakin banyak. Perangkat digital tersedia, dan berbagai indikator menunjukkan kemajuan. Semua angka itu bisa saja benar.
Ada pertanyaan yang lebih penting, apakah siswa benar-benar belajar? Apakah kemampuan membaca, bernalar, memecahkan masalah? Apakah kesenjangan mutu semakin kecil?
Para guru perlu membedakan antara education as measured dan education as experienced. Pendidikan sebagaimana diukur dengan indikator dan pendidikan sebagaimana benar-benar dialami siswa dan guru.
Tidak semua hal penting mudah diukur. Dan tidak semua yang mudah diukur adalah hal yang paling penting.
Campbell’s Law
Di sinilah Campbell’s Law menjadi relevan. Semakin kuat suatu indikator kuantitatif digunakan untuk mengambil keputusan, semakin besar kemungkinan indikator itu dimanipulasi. Pada akhirnya bisa diduga, indikator kehilangan fungsinya sebagai ukuran yang baik.
Dalam pendidikan, jika nilai ujian, peringkat sekolah, angka kelulusan, atau akreditasi menjadi ukuran utama keberhasilan, sekolah bisa terdorong mengejar angka tersebut. Akibatnya hal-hal yang lebih sulit diukur, seperti kreativitas, berpikir kritis, karakter, kualitas interaksi belajar, dan kebutuhan nyata siswa, bisa jadi tersisih.
Ketika indikator berubah menjadi tujuan, angka dapat terlihat semakin baik, sementara mutu pendidikan belum tentu ikut membaik.
Bagaimana Menghindari Agnotologi?
Melawan agnotologi bukan berarti kita harus menolak data. Atau menolak statistik, asesmen, akreditasi, atau indikator kinerja. Justru kita perlu menggunakannya dengan literasi kritis.
Setiap angka perlu ditanya:
• Apa sebenarnya yang diukur?
• Apa yang tidak diukur?
• Siapa yang menentukan indikator?
• Apakah peningkatan indikator benar-benar berarti peningkatan mutu?
Pertanyaan sederhana di atas membantu para guru dan pengambil kebijakan pendidikan kita melihat pendidikan secara lebih utuh dan tidak cepat puas dengan keberhasilan yang hanya tampak di permukaan.
Pertanyaan “nakal”, Berani kita melihat di Balik Angka?
Tantangan agnotologi bukanlah menghindari angka. Kita justru membutuhkan data. Kita membutuhkan indikator, hasil penelitian, dan asesmen. Hal yang perlu dihindari adalah menjadikan semuanya sebagai satu-satunya “cermin keberhasilan”. Reflection of success.
Pendidikan yang bermutu harus berani melihat apa yang ada di balik angka. Apa yang belum terukur. Apa yang belum diteliti, belum terungkap, bahkan belum kita sadari.
Pendidikan yang tampak berhasil belum tentu benar-benar berhasil. Dan semakin banyak angka yang kita miliki, belum tentu semakin banyak pula yang kita ketahui.
Oleh sebab itu melawan agnotologi berarti membangun keberanian akademik (scholarly courage) untuk terus bertanya, menguji, mengoreksi, dan mengakui batas pengetahuan.
Pertanyaan Proctor & Schiebinger (2008) tetap relevan. Why don’t we know what we don’t know?. Di balik begitu banyak angka keberhasilan pendidikan, apa yang sebenarnya belum kita ketahui?
Sumangga lenyepaneun kangge urang sadayana.
May this be something for all of us to reflect on!!
Reposting by POINT Consultant

