KETIKA KENTANG INDONESIA HARUS NAIK KELAS
(Membangun Ekosistem Kentang Nasional dari Benih hingga Industri)
Mangesti Waluyo Sedjati - Conceptualizer, The Mangesti FEED Plus the Nation Framework
🇮🇩🥔 *KETIKA KENTANG INDONESIA HARUS NAIK KELAS*
*_Membangun Ekosistem Kentang Nasional dari Benih hingga Industri_*
*_Dari Kultur Jaringan, Petani dan Industri Pengolahan hingga Substitusi Impor dan Kedaulatan Pangan Indonesia_*
✍️ *_Mangesti Waluyo Sedjati_*
_Conceptualizer - The Mangesti FEED Plus the Nation Framework_
📍 _Sidoarjo, 2 September 2026_
*بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ*
_Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh._
_Bapak/Ibu dan Sahabat yang saya hormati,_
Ada satu pertanyaan sederhana yang membawa saya kepada persoalan yang ternyata jauh lebih besar:
_“Mengapa Indonesia yang mampu menanam kentang, mempunyai petani, dataran tinggi, peneliti, perguruan tinggi, laboratorium kultur jaringan, bahkan pasar yang sangat besar, masih harus bergantung kepada kentang industri dan sebagian benih dari luar negeri?”_
Awalnya saya mengira persoalannya sederhana.
Mungkin kita kekurangan lahan.
*_Ternyata tidak._*
Mungkin petani kita tidak mampu menanam kentang.
*_Ternyata juga tidak._*
Mungkin teknologi pembenihannya belum tersedia.
*_Tidak sepenuhnya demikian._*
Indonesia telah mempunyai kemampuan pemuliaan varietas, kultur jaringan, pembenihan, penangkar, sentra produksi, petani, perguruan tinggi dan lembaga penelitian.
Lalu mengapa ketergantungan masih terjadi?
Menurut saya jawabannya mulai terlihat jelas:
*MASALAH KENTANG INDONESIA BUKAN SEKADAR MASALAH PERTANIAN.*
Masalah utamanya adalah:
*EKOSISTEM.*
Laboratorium belum selalu terhubung dengan penangkar.
Penangkar belum selalu terhubung dengan petani.
Petani belum selalu terhubung dengan industri.
Produksi belum selalu dimulai dari kebutuhan pasar.
Pembiayaan belum selalu hadir.
Riset belum selalu berujung pada skala ekonomi.
Dan kebijakan produksi, industri serta perdagangan belum selalu berjalan dalam satu arah.
Kita mempunyai banyak kepingan.
Tetapi:
*MEMILIKI BANYAK KOMPONEN BELUM TENTU BERARTI MEMILIKI SISTEM.*
🥔 *KENTANG TIDAKLAH SATU PASAR*
Ada kekeliruan yang sering terjadi ketika masyarakat berbicara mengenai impor kentang.
Orang melihat kentang di pasar tradisional.
Kentang banyak di supermarket.
Petani Dieng menanam.
Garut menghasilkan.
Pangalengan menghasilkan.
Jawa Timur juga menghasilkan.
Kemudian muncul pertanyaan:
_“Kalau kentang kita banyak, mengapa industri masih mengimpor?”_
Jawabannya karena kentang tidaklah satu pasar.
Kentang yang kita gunakan untuk sayur, perkedel atau sup belum tentu cocok untuk keripik industri.
Kentang yang baik untuk keripik belum tentu ideal untuk _french fries_.
Industri tidak sekadar membeli kentang.
_*INDUSTRI MEMBELI SPESIFIKASI.*_
Ukuran.
Bentuk.
Kadar pati.
Kandungan bahan kering.
Kadar gula reduksi.
Warna setelah digoreng.
Tekstur.
Rendemen.
Keseragaman.
Volume.
Kontinuitas.
Dan tentu saja:
*_HARGA._*
Pabrik tidak hanya membutuhkan kentang yang bagus.
Pabrik membutuhkan kentang yang bagus:
*_DALAM VOLUME BESAR, MUTU SERAGAM, DATANG TEPAT WAKTU, TERSEDIA TERUS-MENERUS DAN EKONOMIS UNTUK DIOLAH._*
Karena itu pertanyaan kita harus berubah.
Bukan lagi:
*_“Bisakah Indonesia menanam kentang?”_*
Tetapi:
*_“Bisakah sistem pertanian Indonesia menghasilkan kentang industri dengan varietas, spesifikasi, volume, kontinuitas, mutu dan harga yang dibutuhkan industri?”_*
Di situlah persoalan sebenarnya.
🌱 *BENIH ADALAH HULU KEDAULATAN*
Sebelum berbicara mengenai ribuan hektare kentang, kita harus berbicara mengenai sesuatu yang jauh lebih kecil.
*_BENIH._*
Bahkan sebelumnya, semuanya dapat bermula dari tanaman kecil di dalam botol laboratorium.
Kultur jaringan memungkinkan bahan tanaman yang sehat diperbanyak menjadi plantlet.
Kemudian berkembang melalui tahapan perbanyakan benih seperti G0, G1, G2 dan seterusnya hingga akhirnya tersedia bahan tanam untuk produksi dalam skala luas.
Di sinilah kita menemukan:
*_EFEK PENGGANDA BENIH._*
Dalam percakapan yang menjadi salah satu bahan awal tulisan ini, seorang pelaku lapangan menggambarkan kapasitas sekitar satu juta butir per bulan.
Menurut ilustrasi operasionalnya, kapasitas tersebut dapat bergerak dari sekitar 25 hektare calon benih, berkembang menjadi sekitar 250 hektare pembenihan, kemudian berpotensi menopang sekitar 2.500 hektare produksi.
Angka tersebut tentu bukan statistik nasional.
Tetapi pesannya sangat penting:
*_KEMAMPUAN KECIL DI HULU DAPAT MENGGERAKKAN DAMPAK YANG SANGAT BESAR DI HILIR._*
Laboratorium menghasilkan bahan tanaman.
Penangkar memperbanyak.
Petani menanam.
Hektare bertambah.
Produksi meningkat.
Industri memperoleh bahan baku.
Impor dapat dikurangi.
Petani memperoleh pasar.
Daerah memperoleh kegiatan ekonomi.
Dan bangsa memperoleh:
*_KAPABILITAS._*
Itulah:
*_EKOSISTEM._*
Tetapi ada satu persoalan.
Mampu menghasilkan teknologi tidak sama dengan mampu memasok kebutuhan nasional.
Kita harus membedakan:
*_“Kita bisa membuat.”_*
dengan:
*_“KITA BISA MEMASOK DALAM SKALA INDUSTRI.”_*
Inilah salah satu tantangan besar Indonesia.
Kita sering berhasil pada tahap percobaan.
Tetapi tantangannya adalah memperbesar.
Bisakah satu hektare menjadi seratus?
Seratus menjadi seribu?
Seribu menjadi sepuluh ribu?
Dan ketika skalanya membesar:
apakah mutunya tetap baik?
Apakah petani tetap untung?
Apakah industri tetap membeli?
Apakah lingkungan tetap terjaga?
Dan:
*_APAKAH IMPOR BENAR-BENAR TURUN?_*
Itulah ujian pembangunan.
🏔️ *GARUT MENUNJUKKAN: JALANNYA ADA*
Pengalaman Garut memberi petunjuk yang menarik.
Belum sempurna.
Belum besar.
Belum bisa disebut model nasional.
Tetapi beberapa mata rantai mulai terlihat tersambung.
Ada petani.
Ada kelompok tani.
Ada penangkar.
Ada kegiatan pembenihan.
Ada varietas untuk kebutuhan industri.
Ada pendampingan.
Dan yang sangat menentukan:
*_ADA INDUSTRI YANG MENJADI PEMBELI._*
Di sinilah paradigma pertanian harus dibalik.
Jangan lagi:
*_TANAM → PANEN → BARU MENCARI PEMBELI._*
Tetapi:
*_PASAR → KONTRAK → BENIH → TANAM → PANEN → INDUSTRI._*
Berapa kebutuhan industri?
Varietas apa?
Berapa ton?
Spesifikasinya bagaimana?
Kapan harus tersedia?
Setelah itu baru dihitung:
berapa hektare yang harus ditanam,
berapa benih yang diperlukan,
berapa penangkar,
berapa petani,
berapa pembiayaan,
dan kapan jadwal tanamnya.
Karena:
*_PETANI BUKAN LEMBAGA AMAL._*
Petani mempunyai keluarga.
Membeli benih.
Membeli pupuk.
Membayar tenaga kerja.
Menghadapi penyakit.
Menghadapi cuaca.
Menghadapi fluktuasi harga.
Dan menanggung risiko gagal panen.
Kalau kita ingin petani menanam kentang industri, jangan datang hanya membawa benih.
_*BAWALAH PASAR.*_
Bawalah kontrak.
Bawalah teknologi.
Bawalah pembiayaan.
Bawalah kepastian spesifikasi.
Dan bawalah kepastian pembelian.
Barulah petani mempunyai alasan ekonomi untuk berubah.
👨🌾 *PETANI HARUS NAIK KELAS*
Petani kecil juga tidak boleh menghadapi industri besar sendirian.
Mereka harus masuk dalam kelembagaan.
Kelompok tani.
Kemitraan.
Dan terutama koperasi yang dikelola secara profesional.
Koperasi tidak boleh hanya menjadi tempat administrasi.
Koperasi harus menjadi:
*PENGGABUNG SKALA.*
Seratus petani kecil mungkin tidak mampu memenuhi kebutuhan pabrik secara sendiri-sendiri.
Tetapi ketika jadwal tanam, mutu, pembelian input, pencatatan, panen dan pemasaran dikoordinasikan, seratus petani kecil dapat berubah menjadi:
_*SATU PEMASOK BESAR.*_
Dan petani jangan selamanya berhenti di kebun.
Koperasi secara bertahap dapat masuk ke:
sortasi,
pengelompokan mutu,
penyimpanan,
logistik,
bahkan pengolahan awal.
Mengapa?
Karena nilai terbesar dalam sebuah komoditas sering tidak berhenti pada bahan mentah.
Semakin jauh petani masuk ke rantai nilai, semakin besar kemungkinan mereka memperoleh bagian ekonomi yang lebih baik.
Dan di sinilah ukuran pembangunan yang tidak boleh kita lupakan:
*_APAKAH PENDAPATAN BERSIH PETANI NAIK?_*
Kalau produksi naik, industri tumbuh, impor turun, tetapi petani tetap miskin:
*_KITA BELUM BERHASIL._*
Pembangunan bukan untuk mempercantik statistik.
*_PEMBANGUNAN HARUS MEMBUAT KEHIDUPAN MANUSIA MENJADI LEBIH BAIK._*
💰 *_PEMBIAYAAN HARUS MASUK KE DALAM EKOSISTEM_*
Kita sering mengatakan:
*_“Bank harus lebih banyak membiayai petani.”_*
Benar.
Tetapi bank juga bekerja berdasarkan risiko.
Bank bertanya:
siapa pembelinya?
Apakah ada kontrak?
Berapa luas tanam?
Berapa produktivitas?
Berapa harga?
Bagaimana jika gagal panen?
Bagaimana arus kasnya?
Kalau semua jawaban itu tidak jelas, tentu bank berhati-hati.
Jadi masalahnya tidak selalu:
*_BANK TIDAK MAU MEMBIAYAI PETANI._*
Masalah yang lebih mendasar adalah:
*_EKOSISTEM BELUM MENGHASILKAN INFORMASI DAN KEPASTIAN YANG MEMBUAT USAHA PETANI LAYAK DIBIAYAI._*
Ketika ada kontrak.
Pasarnya jelas.
Produksinya tercatat.
Arus kasnya dapat dihitung.
Maka posisi petani berubah.
Bukan sekadar:
*_“orang yang membutuhkan pinjaman.”_*
Tetapi menjadi:
*_PELAKU USAHA YANG MEMPUNYAI ARUS KAS._*
Di situlah perbankan, lembaga pembiayaan dan asuransi dapat masuk lebih kuat.
🏭 *_JANGAN MENYALAHKAN INDUSTRI KARENA MENGIMPOR_*
Lalu mengapa industri memilih impor?
Jangan buru-buru mengatakan:
*_“Karena industri lebih suka produk luar negeri.”_*
Industri bekerja berdasarkan perhitungan.
Pabrik harus berjalan.
Pasar harus dilayani.
Produk harus tersedia.
Maka industri membutuhkan:
*VOLUME + MUTU + HARGA + KONTINUITAS + KEPASTIAN JADWAL.*
Kalau pemasok luar negeri dapat menyediakan semua itu sementara pemasok domestik belum dapat menjamin, impor menjadi keputusan bisnis yang rasional.
Maka pertanyaannya bukan:
*_“Mengapa industri tidak membeli kentang lokal?”_*
Tetapi:
*_“APA YANG HARUS KITA BANGUN AGAR MEMBELI KENTANG INDONESIA MENJADI PILIHAN BISNIS YANG RASIONAL?”_*
Benih harus tersedia.
Varietas harus cocok.
Mutu harus terjaga.
Volume harus cukup.
Petani harus terkonsolidasi.
Pascapanen harus baik.
Harga harus kompetitif.
Kontrak harus jelas.
Dan data harus dapat dipercaya.
Kalau seluruhnya tersedia:
*_PRODUK INDONESIA TIDAK PERLU DIBELI KARENA KASIHAN._*
Produk Indonesia harus dibeli karena:
*_MEMANG KOMPETITIF._*
🚢 *_IMPOR HARUS MENJADI JEMBATAN, BUKAN RUMAH PERMANEN_*
Saya tidak setuju kalau persoalan ini hanya dijawab:
*“Hentikan impor!”*
Tetapi saya juga tidak setuju jika impor dibiarkan tanpa strategi pembangunan kemampuan domestik.
Menutup impor secara mendadak ketika kapasitas dalam negeri belum siap dapat menyebabkan:
kelangkaan,
harga naik,
industri terganggu,
dan konsumen akhirnya membayar.
Sebaliknya, impor yang terus berlangsung tanpa target peningkatan kapasitas nasional dapat membuat:
petani kehilangan insentif,
penangkar tidak berkembang,
investasi benih melemah,
dan ketergantungan menjadi permanen.
Karena itu menurut saya:
*_IMPOR HARUS MENJADI JEMBATAN, BUKAN RUMAH PERMANEN._*
Jembatan dibangun untuk:
*_MENYEBERANG._*
Bukan untuk ditinggali selamanya.
Setiap ton kentang atau benih yang kita impor hari ini harus membawa pertanyaan:
*_“APA YANG SEDANG KITA BANGUN AGAR LIMA ATAU SEPULUH TAHUN LAGI IMPOR ITU BERKURANG?”_*
Dan target akhirnya tidak harus selalu nol impor.
Dunia modern saling berdagang.
Indonesia tetap boleh mengimpor.
Yang tidak boleh adalah:
*_KETERGANTUNGAN._*
Kita berdagang karena:
*_MEMILIH._*
Bukan karena:
*_TIDAK MEMPUNYAI PILIHAN._*
Itulah kedaulatan.
🔗 *_JANGAN BANGUN PROGRAM. BANGUN EKOSISTEM._*
Saya membayangkan Ekosistem Kentang Indonesia sebagai satu rangkaian:
*_PASAR_*
↓
*_VARIETAS_*
↓
*_BENIH_*
↓
*_PENANGKAR_*
↓
*_PETANI & KOPERASI_*
↓
*_PEMBIAYAAN_*
↓
*_PASCAPANEN & LOGISTIK_*
↓
*_INDUSTRI_*
↓
*_KONSUMEN_*
Dan mengelilingi seluruhnya:
*_RISET + DATA + TEKNOLOGI + KEBIJAKAN + LINGKUNGAN._*
Yang sangat penting:
*_PASAR BUKAN BAGIAN TERAKHIR YANG DICARI SETELAH PANEN._*
Pasar harus menjadi:
*_TITIK AWAL PERENCANAAN._*
Hitung kebutuhan pasar.
Terjemahkan menjadi tonase.
Tonase diterjemahkan menjadi hektare.
Hektare diterjemahkan menjadi kebutuhan benih.
Dari kebutuhan benih dihitung:
berapa laboratorium,
berapa penangkar,
berapa petani,
dan berapa pembiayaan.
Dengan demikian:
*_SISTEM BEKERJA MUNDUR DARI KEBUTUHAN PASAR._*
🏛️ *NEGARA HARUS MENJADI ORKESTRATOR*
Negara tidak perlu menjadi petani.
Negara juga tidak perlu menggantikan pengusaha.
Tetapi negara mempunyai pekerjaan yang tidak dapat dilakukan satu pelaku sendirian:
*_MENYAMBUNGKAN SEMUANYA._*
Petani mempunyai kepentingan.
Industri mempunyai kepentingan.
Bank mempunyai kepentingan.
Peneliti mempunyai kepentingan.
Penangkar mempunyai kepentingan.
Importir juga mempunyai kepentingan.
Semua itu sah.
Tetapi negara harus melihat:
*_KEPENTINGAN NASIONAL._*
Negara harus menjadi:
*_ORKESTRATOR._*
Satu data.
Satu target.
Satu arah.
Riset harus menjawab kebutuhan pasar.
Produksi harus membaca kebutuhan industri.
Industri memberikan kontrak.
Pembiayaan masuk.
Dan impor harus diselaraskan dengan pembangunan kapasitas domestik.
Indonesia sebenarnya tidak kekurangan lembaga.
Yang sering kurang adalah:
*_MEJA YANG SAMA._*
Kita dapat mempunyai banyak program.
Banyak seminar.
Banyak penelitian.
Banyak bantuan.
Tetapi kalau semuanya berjalan sendiri-sendiri:
*_INDONESIA BELUM TENTU BERGERAK._*
🗺️ *PETA JALAN SUBSTITUSI IMPOR KENTANG INDUSTRI 2027–2036*
Karena itu saya mengusulkan:
*_PETA JALAN SUBSTITUSI IMPOR KENTANG INDUSTRI 2027–2036._*
Bukan larangan mendadak.
Bukan pula impor tanpa batas.
Tetapi:
*_TRANSISI BERBASIS KAPABILITAS._*
Petakan kebutuhan industri.
Petakan varietas.
Petakan kapasitas benih.
Petakan penangkar.
Petakan petani.
Petakan sentra.
Petakan pembiayaan.
Kemudian pilih beberapa:
*_KORIDOR PERCONTOHAN._*
Garut dapat menjadi salah satunya.
Jawa Tengah.
Jawa Timur.
Sumatra.
Atau sentra lain yang paling sesuai.
Dalam dua tahun:
*_BUKTIKAN MODELNYA._*
Kapasitas benih meningkat.
Petani terkontrak bertambah.
Produktivitas terukur.
Mutu memenuhi standar.
Pembiayaan mulai masuk.
Industri membeli.
Impor mulai tergantikan pada segmen tertentu.
Dalam lima tahun:
*_PERBESAR SKALANYA._*
Beberapa koridor kentang industri harus mulai matang.
Pusat benih semakin kuat.
Koperasi profesional.
Kontrak industri berjalan.
Ketergantungan benih impor turun.
Dan impor kentang industri berubah dari:
*_SUMBER UTAMA_*
menjadi semakin dekat kepada:
*_PELENGKAP PASOKAN._*
Dalam sepuluh tahun:
*_REPLIKASIKAN MODELNYA._*
Bukan hanya kentang.
Tetapi juga:
singkong,
kedelai,
bawang putih,
gula,
susu,
kopi,
bahan baku obat,
dan berbagai komoditas strategis lainnya.
Dengan demikian kita bukan hanya membangun ekosistem kentang.
Kita membangun:
*_ARSITEKTUR PEMBANGUNAN KOMODITAS NASIONAL._*
🇮🇩🌱 *THE MANGESTI FEED PLUS THE NATION FRAMEWORK*
Di sinilah persoalan kentang bertemu dengan kerangka yang lebih besar:
*_THE MANGESTI FEED PLUS THE NATION FRAMEWORK._*
*_FOOD._*
Kentang memperkuat pangan, diversifikasi dan ketahanan pasokan.
*_ENERGY._*
Produksi, penyimpanan, transportasi dan pengolahan harus semakin efisien menggunakan energi.
*_ENVIRONMENT._*
Tanah, air dan kawasan dataran tinggi harus tetap dijaga.
*_DEVELOPMENT._*
Ekosistem kentang harus menghasilkan pendapatan petani, pekerjaan, agroindustri dan nilai tambah daerah.
Tetapi empat hal itu belum cukup.
Kita membutuhkan:
*_PLUS THE NATION._*
Pertanyaannya adalah:
*_“SETELAH PROGRAM INI SELESAI, APA YANG SEKARANG LEBIH MAMPU DILAKUKAN OLEH INDONESIA?”_*
Apakah kita semakin mampu menghasilkan varietas?
Benih?
Kultur jaringan?
Teknologi?
Data?
Pascapanen?
Pengolahan?
Pembiayaan?
Industri?
Kalau jawabannya:
*_YA,_*
maka bangsa sedang membangun:
*_KAPABILITAS._*
Karena bangsa maju bukan hanya:
*_BANGSA KAYA SUMBER DAYA._*
Bangsa maju adalah:
*_BANGSA KAYA KAPABILITAS._*
Bangsa yang mampu:
menciptakan,
mengolah,
memproduksi,
mengorganisasikan,
menguasai teknologi,
dan terus berinovasi.
🇮🇩🥔 *DARI RESOURCE NATION MENUJU CAPABILITY NATION*
Indonesia mempunyai tanah.
Petani.
Universitas.
Pasar.
Modal.
Sumber daya.
Tetapi pertanyaannya:
apakah tanah itu produktif?
Apakah petani mempunyai teknologi dan pasar?
Apakah riset universitas masuk industri?
Apakah pasar besar Indonesia membesarkan produsen Indonesia?
Karena:
*_MEMILIKI SUMBER DAYA TIDAK SAMA DENGAN MEMILIKI KEMAMPUAN._*
Jangan sampai besarnya pasar domestik kita justru hanya menjadi:
*_PASAR BESAR BAGI KAPABILITAS BANGSA LAIN._*
Kita yang membeli.
Mereka yang mengembangkan teknologi.
Kita yang mengonsumsi.
Mereka yang membangun industri.
Kita yang mempunyai pasar.
Mereka yang memperoleh nilai tambah terbesar.
Ini yang harus kita balik.
*_BESARNYA PASAR INDONESIA HARUS DIGUNAKAN UNTUK MEMBESARKAN KAPABILITAS INDONESIA._*
🇮🇩 *PENUTUP - KENTANG HANYALAH PINTU MASUK*
_Bapak/Ibu dan Sahabat yang saya hormati,_
Siapa menyangka satu komoditas sederhana seperti kentang dapat membawa kita kepada pembicaraan mengenai:
pangan,
benih,
teknologi,
petani,
koperasi,
perbankan,
industri,
perdagangan,
riset,
data,
lingkungan,
dan kedaulatan ekonomi?
Tetapi justru di situlah pelajarannya.
Ekonomi nasional tidak hanya dibangun dari teori besar.
Ia dibangun dari:
*_JUTAAN AKTIVITAS KECIL YANG TERSAMBUNG MENJADI SATU SISTEM BESAR._*
Karena itu jangan mulai dengan pertanyaan:
*_“Siapa yang salah?”_
Importir?
Industri?
Petani?
Pemerintah?
Peneliti?
Pertanyaan yang jauh lebih produktif adalah:
*_“APA YANG BELUM TERSAMBUNG?”_*
Kalau benih kurang:
*_BANGUN BENIH._*
Kalau varietas belum cocok:
*_PERBAIKI VARIETAS._*
Kalau petani belum mempunyai pasar:
*_BANGUN KONTRAK._*
Kalau industri belum percaya:
*_BANGUN MUTU._*
Kalau bank masih ragu:
*_BANGUN DATA._*
Kalau impor terlalu besar:
*_BANGUN KAPABILITAS._*
Kalau lembaga berjalan sendiri-sendiri:
*_BANGUN ORKESTRASI._*
Karena:
*_SUBSTITUSI IMPOR TIDAK DIMULAI DENGAN MENUTUP PELABUHAN._*
Substitusi impor dimulai dari:
laboratorium,
benih,
penangkar,
petani,
koperasi,
pembiayaan,
pascapanen,
industri,
data,
dan kebijakan.
*_KALAU HULUNYA KUAT, IMPOR AKAN TURUN SEBAGAI AKIBAT._*
Dan akhirnya yang harus naik kelas bukan hanya kentangnya.
*_BENIHNYA HARUS NAIK KELAS._*
*_PENANGKARNYA HARUS NAIK KELAS._*
*_PETANINYA HARUS NAIK KELAS._*
*_KOPERASINYA HARUS NAIK KELAS._*
*_RISETNYA HARUS NAIK KELAS._*
*_PERBANKANNYA HARUS NAIK KELAS._*
*_TEKNOLOGINYA HARUS NAIK KELAS._*
*_INDUSTRINYA HARUS NAIK KELAS._*
*_DATANYA HARUS NAIK KELAS._*
*_KEBIJAKANNYA HARUS NAIK KELAS._*
Dan yang terpenting:
*_CARA BERPIKIR KITA HARUS NAIK KELAS._*
Dari proyek menuju:
*_EKOSISTEM._*
Dari produksi menuju:
*_PASAR._*
Dari komoditas menuju:
*_NILAI TAMBAH._*
Dari ketergantungan menuju:
*_KAPABILITAS._*
Dari Resource Nation menuju:
*_CAPABILITY NATION._*
Dan ketika seluruh mata rantai itu naik kelas bersama-sama,
maka sesungguhnya yang sedang naik kelas bukan lagi sekadar kentang.
*_INDONESIA YANG NAIK KELAS_*. 🇮🇩
Karena kedaulatan ekonomi bukan berarti menutup diri dari dunia.
*_KEDAULATAN ADALAH KETIKA BANGSA INI MEMPUNYAI KEMAMPUAN, PILIHAN,_* *_TEKNOLOGI DAN POSISI TAWAR YANG CUKUP KUAT SEHINGGA DUNIA MENGHORMATI PILIHAN KITA._*
_Wallāhu a‘lam bish-shawāb._
_Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh._
https://www.facebook.com/share/1EUig8cMQD/?mibextid=wwXIfr

