MENGAPA ORANG BAIK BISA MENJADI KORUPTOR ?
BAGIAN II - EPISODE 11 – PERANG MELAWAN KORUPSI
MENGAPA ORANG BAIK BISA MENJADI KORUPTOR ?
*By : AR Datuk Rajo Batuah*
*((Pengajar, Pendiri Himpunan Alumni Tunisia, Pendiri Himpunan Alumni Maroko, dan Pendiri Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI))*
Ada anggapan yang sangat kuat di tengah masyarakat: bahwa orang baik tidak mungkin korup.
Anggapan itu terdengar masuk akal. Sebab kita terbiasa membayangkan koruptor sebagai manusia yang sejak awal memang serakah, rakus, licik, dan tidak mempunyai kepedulian moral. Karena itu, ketika seseorang yang dikenal baik kemudian tersandung perkara korupsi, masyarakat sering merasa terkejut.
“Tidak mungkin dia.”
“Selama ini orangnya baik.”
“Dia sederhana.”
“Dia rajin membantu masyarakat.”
“Dia bahkan dikenal religius.”
Tetapi kenyataan manusia tidak sesederhana itu.
Orang yang pernah baik tetap dapat melakukan kesalahan besar. Orang yang selama bertahun-tahun dikenal jujur pun dapat tergelincir. Bukan selalu karena seluruh kebaikannya sebelumnya palsu, melainkan karena manusia mempunyai kemampuan untuk berubah, mencari alasan, dan membenarkan tindakannya sendiri.
Di situlah persoalan korupsi menjadi menarik sekaligus mengkhawatirkan.
Korupsi tidak selalu dimulai dari niat menjadi penjahat.
Sering kali ia justru dimulai dari sebuah kalimat kecil di dalam hati:
“Sekali ini saja.”
*Kebaikan Masa Lalu Bisa Menjadi Alasan Membenarkan Diri*
Ada gejala yang dikenal dalam psikologi sebagai moral licensing. Sederhananya, seseorang yang merasa telah melakukan banyak kebaikan kadang merasa mempunyai semacam “tabungan moral” yang memberinya kelonggaran untuk melakukan satu pelanggaran.
Ia berpikir:
“Saya sudah mengabdi puluhan tahun.”
“Saya sudah banyak membantu orang.”
“Saya tidak pernah mengambil apa pun selama ini.”
“Saya sudah terlalu banyak berkorban.”
Kalimat-kalimat seperti itu pada mulanya mungkin benar.
Masalah muncul ketika jasa masa lalu mulai dipakai untuk membenarkan tindakan yang seharusnya tidak dilakukan hari ini.
Seorang pejabat bisa merasa pantas menerima fasilitas tambahan karena menganggap dirinya telah bekerja keras.
Seorang aktivis dapat menganggap wajar menggunakan sebagian dana organisasi karena merasa telah mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kehidupan pribadinya.
Seorang pemimpin dapat mulai menganggap bahwa pemberian tertentu bukan masalah karena jasa yang telah ia berikan kepada masyarakat jauh lebih besar daripada nilai pemberian tersebut.
Perlahan-lahan ukuran moral mulai bergeser.
Yang sebelumnya disebut hak dan bukan hak, berubah menjadi soal “pantas atau tidak pantas”.
Padahal sesuatu yang bukan hak tetap bukan hak, seberapa pun besar jasa seseorang.
Di sinilah kebaikan masa lalu bisa berubah menjadi perangkap.
Dari “Saya Tidak Akan Mengambil” Menjadi “Saya Memang Berhak”
Tidak semua korupsi lahir dari kerakusan.
Kadang-kadang ia muncul dari perasaan bahwa seseorang memang layak mendapatkan lebih.
Psikologi menyebutnya sense of entitlement—rasa berhak memperoleh sesuatu karena jabatan, jasa, kedudukan, pengalaman, atau pengorbanan.
Awalnya mungkin terdengar wajar.
“Saya sudah membangun lembaga ini.”
“Saya yang bekerja paling keras.”
“Tanpa saya, program ini tidak akan berjalan.”
Tetapi batas menjadi berbahaya ketika perasaan berjasa mulai berubah menjadi hak untuk mengambil.
Saat itulah pertanyaan moral bergeser.
Bukan lagi:
“Apakah ini milik saya?”
Melainkan:
“Setelah semua yang saya lakukan, masa saya tidak boleh mendapat sedikit?”
Pertanyaan semacam ini terlihat sederhana, tetapi bisa menjadi awal perubahan besar.
Seseorang tidak lagi merasa mengambil hak orang lain. Ia merasa hanya menerima balasan atas pengorbanannya.
Korupsi kemudian terasa seperti kompensasi.
Padahal negara, organisasi, dan uang publik tidak bekerja berdasarkan perasaan.
Hak harus jelas.
Aturan harus jelas.
Batas juga harus jelas.
Jasa seseorang tidak dapat dipakai sebagai cek kosong untuk mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya.
*Manusia Sangat Pandai Membujuk Diri Sendiri*
Di sinilah sisi paling rumit dari manusia.
Kita ingin tetap melihat diri sendiri sebagai orang baik.
Tidak ada orang yang senang mengaku kepada dirinya sendiri bahwa ia curang.
Karena itu, ketika tindakan kita mulai bertentangan dengan citra diri, pikiran akan mencari jalan keluar.
Dalam psikologi, keadaan seperti ini sering disebut cognitive dissonance: ketegangan antara apa yang kita yakini dengan apa yang kita lakukan.
Misalnya seseorang selalu merasa dirinya jujur.
Lalu suatu hari ia menerima sesuatu yang sebenarnya tidak pantas diterima.
Agar citra dirinya tetap utuh, ia tidak berkata:
“Saya sedang melakukan kesalahan.”
Ia mungkin berkata:
“Ini hanya tanda terima kasih.”
Lalu ketika menerima lagi:
“Semua orang juga begitu.”
Kemudian:
“Tidak ada yang dirugikan.”
Sampai akhirnya:
“Kalau tidak saya ambil, orang lain juga akan mengambilnya.”
Begitulah pembenaran bekerja.
Yang berubah pertama kali bukan tindakannya, tetapi cara ia memberi nama kepada tindakan itu.
Dan ketika nama sudah diperhalus, rasa bersalah ikut berkurang.
Suap berubah menjadi hadiah.
Penyalahgunaan berubah menjadi fasilitas.
Nepotisme berubah menjadi kepercayaan.
Penyelewengan berubah menjadi kebutuhan.
Bahasa menjadi alat paling halus untuk menenangkan hati.
Kebaikan Bisa Dipisah-Pisahkan
Ada pula manusia yang baik dalam satu sisi kehidupan, tetapi buruk dalam sisi lain.
Ia penyayang kepada keluarga.
Dermawan kepada tetangga.
Rajin membantu kegiatan sosial.
Tetapi di tempat kerja ia melakukan manipulasi.
Ini tampak kontradiktif, tetapi bukan sesuatu yang mustahil.
Manusia dapat memisahkan kehidupannya ke dalam kotak-kotak.
Di rumah ia ayah yang baik.
Di lingkungan sosial ia tokoh yang dihormati.
Di kantor ia bisa membuat keputusan yang tidak bersih.
Semua bagian itu dapat berjalan beriringan tanpa selalu dipertemukan dalam satu penilaian moral.
Karena itu, kebaikan pribadi tidak otomatis menjadi jaminan kebersihan dalam jabatan.
Kesalehan sosial juga tidak otomatis berarti integritas dalam pengelolaan uang.
Islam sendiri mengingatkan bahwa keimanan harus berjalan bersama kejujuran dan amanah. Nilai moral tidak cukup berhenti pada identitas, simbol, atau reputasi. Ia harus hadir dalam keputusan nyata, terutama ketika menyangkut hak orang lain.
Pesan itu bersifat universal.
Siapa pun dapat terlihat baik.
Tetapi integritas baru terlihat ketika kebaikan itu diuji.
*Bahaya Terbesar: Merasa Diri Tidak Mungkin dan Tidak Pernah Salah*
Ada satu keadaan yang jauh lebih berbahaya daripada godaan uang.
Yaitu ketika seseorang terlalu yakin bahwa dirinya tidak mungkin melakukan kesalahan.
Ia berkata:
“Saya bukan tipe orang seperti itu.”
“Saya sudah puluhan tahun bersih.”
“Saya tahu batas.”
Keyakinan seperti ini dapat membuat kewaspadaan melemah.
Sebab orang yang merasa dirinya mustahil jatuh sering berhenti memeriksa langkahnya.
Padahal manusia membutuhkan kemampuan untuk mencurigai dirinya sendiri.
Bukan dalam arti selalu merasa bersalah, tetapi dalam arti bersedia menguji kembali keputusan, motif, keuntungan, dan kepentingannya.
Tradisi Islam mengenal sikap ini sebagai muhasabah: memeriksa diri sebelum sibuk menilai orang lain.
Pesannya sangat relevan dalam pemberantasan korupsi.
Jangan hanya bertanya:
“Siapa yang korup?”
Sesekali kita juga perlu bertanya:
“Apakah ada keputusan saya yang mulai saya benarkan hanya karena menguntungkan diri sendiri?”
Pertanyaan sederhana itu bisa menyelamatkan seseorang dari langkah yang lebih jauh.
Integritas Bukan Medali Seumur Hidup
Salah satu kesalahan kita adalah menganggap kejujuran sebagai gelar.
Seolah-olah ketika seseorang pernah dikenal jujur, ia akan otomatis jujur selamanya.
Padahal integritas bukan medali yang sekali diperoleh lalu dapat dipakai sepanjang hidup.
Ia adalah keputusan yang harus diperbarui setiap hari.
Orang yang kemarin jujur tetap harus memilih jujur hari ini.
Orang yang kemarin menolak uang haram tetap harus menolaknya ketika jumlahnya lebih besar.
Orang yang kemarin sederhana tetap harus menjaga dirinya ketika status sosialnya meningkat.
Masa lalu tidak bisa menjadi jaminan untuk masa depan.
Karena itu, ketika seseorang yang dikenal baik kemudian terjerumus dalam korupsi, kita tidak perlu buru-buru mengatakan bahwa seluruh kebaikannya dahulu palsu.
Mungkin ia memang pernah baik.
Tetapi pada satu titik ia mulai memberi dispensasi kepada dirinya sendiri.
Satu dispensasi melahirkan alasan.
Alasan melahirkan pembenaran.
Pembenaran membuat pelanggaran terasa biasa.
Dan ketika itu berlangsung terus-menerus, seseorang bisa berjalan sangat jauh tanpa merasa dirinya telah banyak berubah.
Itulah mengapa orang baik bisa menjadi korup.
Bukan karena kebaikan tidak mempunyai arti.
Justru karena kebaikan harus terus dijaga.
Jasa tidak boleh berubah menjadi hak istimewa.
Reputasi tidak boleh menjadi tameng.
Pengorbanan tidak boleh menjadi alasan untuk mengambil milik publik.
Dan yang paling penting, seseorang tidak boleh pernah merasa dirinya terlalu baik untuk jatuh.
Sebab korupsi sering tidak masuk lewat pintu yang bertuliskan “kejahatan”.
Ia datang melalui pintu kecil bernama pembenaran diri.
Dan pintu itulah yang harus diperketat penjagaannya sejak pertama kali melangkah.
Referensi
Bandura, Albert. “Moral Disengagement in the Perpetration of Inhumanities.” Personality and Social Psychology Review, Vol. 3, No. 3, 1999.
Festinger, Leon. A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford University Press, 1957.
Mazar, Nina, On Amir, & Dan Ariely. “The Dishonesty of Honest People: A Theory of Self-Concept Maintenance.” Journal of Marketing Research, Vol. 45, No. 6, 2008.
Merritt, Anna C., Daniel A. Effron, & Benoît Monin. “Moral Self-Licensing: When Being Good Frees Us to Be Bad.” Social and Personality Psychology Compass, Vol. 4, No. 5, 2010.
Tenbrunsel, Ann E., & David M. Messick. “Ethical Fading: The Role of Self-Deception in Unethical Behavior.” Social Justice Research, Vol. 17, 2004.
Al-Qur'an: pesan tentang kejujuran, amanah, dan kewajiban menjaga diri dari pengkhianatan terhadap hak orang lain.
Hadis dan tradisi Islam tentang muhasabah: pentingnya memeriksa diri, amanah, dan tanggungjawab sebelum manusia mempertanggungjawabkan perbuatannya.

