Sertifikat Sustaining the Force: Integrating Life Cycle Cost into TNI's Modernisation Planning

 Sertifikat Sustaining the Force: Integrating Life Cycle Cost into TNI's Modernisation Planning

 

 

POINT Consultant


POINT Consultant



Saluran channel YouTube :
Sustaining the Force: Integrating Life Cycle Cost into TNI's Modernisation Planning



Disclaimer
This video is a property of PT Semar Sentinel Indonesia. Any views or opinions presented in this video are solely those of the speakers and do not necessarily represent those of PT Semar Sentinel Indonesia. Unauthorized publication, use, dissemination, forwarding, editing, and/or copying of this video and its associated attachments without prior consent is strictly prohibited.




Sustaining the Force: Integrating Life Cycle Cost Into TNI’s Modernisation Planning

Type : Webinar

 

Summary

In our webinar, “Sustaining the Force: Integrating Life Cycle Cost Into TNI’s Modernisation Planning,” we explored the importance of incorporating Life Cycle Cost (LCC) into Indonesia’s defence modernisation strategy. Beyond procurement costs, major defence acquisitions also carry long-term sustainment requirements, including personnel training, equipment maintenance, supply chain support, and the preservation of operational readiness. As additional acquisitions continue to be negotiated and contracted across the air, land, and naval domains from multiple and often competing OEM pipelines, each programme brings its own sustainment architecture, training demands, and recurring annual cost burden. How Indonesia manages and finances these long-term obligations will be central to the success and sustainability of TNI’s modernisation efforts.

 

Speakers

1. Air First Marshal Stefanus Arief Hardoyo, ST., M.IT., M.Sc, Secretary of the Defence Technology Agency (Batekhan)

2. Dr. Ir. Yono Reksoprodjo, DIC., Head of Transfer of Technology and Offset of the Indonesian Defence Industry Policy Committee (KKIP)

3. Curie Maharani Savitri, Expert in Offset and Defence Matters and Lecturer at Bina Nusantara University

4. Ade P. Marboen, Senior Editor Antara and Co-Founder of the Jakarta Defence Society

 

 

Integrating Life Cycle Cost (LCC) into the TNI’s modernization planning is a shift from acquisition-centric spending to sustainable force readiness. It ensures that upfront equipment purchases account for long-term operations, maintenance, supply chains, and eventual disposal preventing defense budgets from degrading into unserviceable fleets.

 

Why LCC Matters for the TNI

Historically, Indonesia's defense budgets have prioritized capital expenditures (the initial purchase of Alutsista), leaving insufficient funds for long-term sustainment.

·   - The Readiness Gap: Studies show that operational and maintenance (O&M) costs dominate a platform's lifespan, accounting for up to 70 to 90 % of its total life cycle cost.

·  - The Escalation Factor: With rising International Cost Escalation (ICE) and reliance on foreign Original Equipment Manufacturers (OEMs), operating imported military platforms becomes increasingly volatile due to currency fluctuations.

 

The Core Phases of LCC in Defense

To "sustain the force," modernizing the TNI requires calculating and budgeting for four distinct cost categories :

·  - Acquisition Costs: Initial purchase, delivery, infrastructure setup, and initial crew training.

·  - Operational Costs: Fuel, daily operations, and day-to-day personnel and logistics support.

·   - Maintenance Costs: Mid-life upgrades, routine overhauls, spare parts, and predictive maintenance protocols.

·  - Disposal Costs: Decommissioning, recycling, or demilitarization of the assets at the end of their operational lifespan.

 

Strategic Steps for Implementation

Defense experts and agencies such as the Ministry of Defense's Research and Development Agency (Balitbang Kemhan) advocate for the following structural reforms to make this integration a reality:

·  - Centralized Governance: Streamlining Maintenance, Repair, and Operations (MRO) under a restructured Defense Logistics Agency to control recurring annual cost burdens.

·  - Domestic Defense Industry (DTIB): Fully utilizing the Offset and Transfer of Technology (TOT) mandates under Law No. 16/2012 to build domestic maintenance capabilities and reduce reliance on foreign OEMs.

·  - Institutional Frameworks: Establishing specific regulations (such as new Permenhan or Keppres) that require LCC modeling before any major Alutsista acquisition is negotiated or contracted

 

 

Sustaining the Force : Integrating Life Cycle Cost into TNI's Modernisation Planning mengacu pada pentingnya menyertakan Life Cycle Cost (LCC) atau biaya siklus hidup ke dalam strategi pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Fokus utama dari konsep ini adalah mengubah pola pikir pengadaan militer Indonesia: keberhasilan modernisasi pertahanan tidak hanya diukur dari kemampuan membeli (akuisisi), melainkan dari kemampuan merawat dan mengoperasikan alutsista tersebut hingga akhir masa pakainya (sustainment).

Berikut adalah rangkuman komprehensif mengenai urgensi, struktur biaya, tantangan, dan langkah strategis integrasi LCC dalam modernisasi TNI berdasarkan kajian pertahanan terbaru :

1. Mengapa LCC Sangat Krusial Bagi TNI ?

Membeli alutsista murah atau mencicil banyak platform sekilas tampak menguntungkan, namun berisiko memicu hidden cost (biaya tak terlihat) yang masif di kemudian hari.

·       Efek Gunung Es Biaya: Biaya kontrak pembelian awal (procurement) umumnya hanya mencakup 30% hingga 35% dari total biaya kepemilikan alutsista.

·       Beban Operasional Mendominasi: Sisanya, sekitar 65% hingga 75% anggaran, habis untuk biaya operasional dan pemeliharaan (O&M) selama puluhan tahun masa pakai.

·       Risiko Hollow Force: Jika anggaran O&M tidak direncanakan sejak awal, alutsista canggih yang baru dibeli akan mangkrak (tidak siap tempur) karena ketiadaan suku cadang atau komponen perawatan.

 

2. Ilustrasi Perbandingan Biaya (Studi Kasus Kapal Selam & Jet Tempur)

 


Komponen Biaya Siklus Hidup

Porsi Prosentase

Contoh Kasus (Kapal Selam Kelas Cakra)

Akuisisi awal (pembelian)

30 %

USD 120 Juta

Biaya Operasional

20 %

USD 80 Juta

Peawatan & Turun Mesin (Overhoul)

25 %

USD 100 Juta

Peningkatan Sistem Tempur (Upgrade)

15 %

USD 50 Juta

Infrastruktur & Pelatihan Personel

7 %

USD 28 Juta

Pemusnahan/ Metode Disposal

3 %

USD 12 Juta

TOTAL LCC (Usia Pakai 30-40 tahun)

100 %

USD 400 Juta

 

 

2. Tantangan Utama yang Dihadapi TNI Saat Ini

Integrasi LCC ke dalam cetak biru perencanaan jangka panjang Indonesia masih menghadapi beberapa hambatan mendasar :

·  - Diversifikasi Pemasok (Fragmentasi Ekosistem): Indonesia membeli alutsista dari berbagai negara (multipolar pipelines seperti Rafale dari Prancis, Sukhoi dari Rusia, F-15IDN dari AS). Setiap pabrikan (Original Equipment Manufacturer / OEM) membawa standar logistik, suku cadang, dan arsitektur pelatihan yang berbeda, sehingga melipatgandakan beban biaya.

·  - Keterbatasan Data Akurat: Kurangnya data historis mengenai pengeluaran riil O&M per jam terbang atau jam layar menyulitkan Badan Teknologi Pertahanan Kemhan dalam menyusun proyeksi anggaran yang akurat.

·  - Ego Sektoral Anggaran: Anggaran pengadaan (belanja modal) dan anggaran pemeliharaan seringkali dikelola dalam pos terpisah, sehingga keputusan pembelian jarang disinkronkan dengan kesiapan finansial jangka panjang unit pemeliharaan.

 

3. Langkah Strategis Integrasi LCC untuk Modernisasi TNI

Untuk memastikan keberlanjutan kekuatan pertahanan, Indonesia perlu mengadopsi model tata kelola berbasis siklus hidup (lifecycle-based defence governance) melalui langkah berikut :

Memaksa Transparansi Produsen: Mewajibkan manufaktur/OEM luar negeri untuk memaparkan skema LCC dan menjamin ketersediaan suku cadang selama minimal 20-30 tahun di depan sebagai syarat mutlak memenangkan tender.

Optimalisasi Transfer of Technology (TOT): Memanfaatkan komitmen imbal dagang dan TOTbukan sekadar diplomasi, melainkan untuk membangun kemandirian industri pertahanan dalam negeri (seperti DEFEND ID) agar mampu melakukan Service Life Extension Program (SLEEP) secara mandiri.

Standardisasi Platform Militer: Mengurangi variasi jenis alutsista berlebih. Memiliki platform yang seragam meningkatkan interoperability strategis, mempermudah manajemen logistik, dan menghemat biaya pelatihan teknisi.

Penerapan Performance-Based Logistics (PBL): Mengadopsi sistem kontrak perawatan berbasis performa (seperti skema "power by the hour" pada sektor aviasi), di mana TNI hanya membayar berdasarkan target kesiapan operasional alutsista yang berhasil dipenuhi pihak penyedia.

 

Sustaining the Force: Integrating Life Cycle Cost into TNI's Modernisation PlanningModernisasi Tentara Nasional Indonesia (TNI) menuntut peralihan paradigma dari sekadar pengadaan (acquisition) menuju pengelolaan aset jangka panjang. Menghitung Life Cycle Cost (LCC) atau Biaya Siklus Hidup secara akurat adalah kunci untuk mencegah fenomena "terjebak membeli tapi tak mampu merawat."

1. Mengapa LCC Penting bagi TNI ?

Gunung Es Pengadaan: Biaya pembelian awal (initial purchase) biasanya hanya mencakup 20-30% dari total pengeluaran sistem persenjataan.

Biaya Tersembunyi: Sisa 70-80% anggaran tersedot oleh biaya operasional, pemeliharaan, bahan bakar, pangkalan, dan pelatihan personel selama puluhan tahun ke depan.

Kesiapan Tempur (Readiness): Mengabaikan LCC menyebabkan alutsista mangkrak karena minimnya anggaran perawatan (cannibalization suku cadang).


2. Komponen Utama Life Cycle Cost AlutsistaAnalisis LCC yang komprehensif dalam perencanaan modernisasi harus mencakup empat fase utama :


[Riset & Pengembangan] ➔ [Pengadaan & Investasi] ➔ [Operasi & Pemeliharaan] ➔ [Disposal / Penghapusan]


Riset dan Pengembangan (R&D): Biaya studi kelayakan, desain spesifikasi khusus TNI, dan pengujian awal.

Pengadaan dan Investasi: Biaya manufaktur, persenjataan utama, sistem sensor, suku cadang awal, dan konstruksi fasilitas/hanggar baru.

Operasi dan Pemeliharaan (O&M): Komponen terbesar yang mencakup gaji operator, bahan bakar (BBM/avtur), pemeliharaan rutin, overhaul berkala, dan peningkatan teknologi (upgrade paruh waktu).

Penghapusan (Disposal): Biaya demiliterisasi, penanganan limbah berbahaya, atau proses penjualan kembali/hibah aset yang sudah pensiun.


3. Tantangan Integrasi LCC di IndonesiaSistem Anggaran Tahunan: Pola penganggaran negara yang bersifat tahunan (annual budgeting) menyulitkan komitmen dana O&M jangka panjang.

Eskalasi Biaya tak Terduga: Inflasi global, fluktuasi nilai tukar rupiah, dan kelangkaan suku cadang secara geopolitik sering mengacaukan estimasi awal.

Keterbatasan Data Historis: Kurangnya transparansi data biaya perawatan alutsista terdahulu mempersulit pemodelan prediktif untuk alutsista baru.


4. Rekomendasi Strategis untuk Perencanaan TNIKriteria Mutlak Tender: Jadikan proyeksi LCC sebagai bobot penilaian utama dalam proses seleksi vendor alutsista, bukan hanya mencari harga beli termurah.

Kontrak Logistik Berbasis Kinerja (PBL): Terapkan Performance-Based Logistics dengan produsen untuk menjamin ketersediaan suku cadang dengan biaya yang dapat diprediksi.

Optimalisasi ToT dan Hubungan dengan Defend ID: Manfaatkan Transfer of Technology (ToT) agar industri pertahanan dalam negeri mampu melakukan pemeliharaan tingkat berat secara mandiri, sehingga menekan ketergantungan vendor asing.


Langkah modernisasi TNI yang sukses tidak diukur dari seberapa banyak alutsista baru yang berparade, melainkan dari berapa banyak sistem tempur yang siap digerakkan kapan saja dengan dukungan anggaran yang berkelanjutan.

 



Dear Bapak / Ibu R. Try Priyo Nugroho,

Thank you for participating in our webinar titled ‘Sustaining the Force: Integrating Life Cycle Cost into TNI's Modernisation

Planning’. We hope you enjoyed it.

Please find attached your certificate of participation. Kindly notify us should there be any mistakes in the written name.

Thank you and see you at our future events! Stay safe and stay  healthy.

Kind regards,

Semar Sentinel Team









By, POINT Consultant 




Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama