KENAPA GIBRAN HARUS DISINGKIRKAN SEKARANG, BAHKAN DENGAN ALASAN YANG MENGADA-ADA ? KARENA 2029.
*KENAPA GIBRAN HARUS DISINGKIRKAN SEKARANG, BAHKAN DENGAN ALASAN YANG MENGADA-ADA? KARENA 2029.*
Mari kita jujur. Sengketa ijazah Gibran 2026 ini bukan soal 2019. Bukan soal 6 Agustus. Bukan soal 24 jam. Bukan soal UTS Insearch itu SMA atau kursus. Ini soal 2029.
Mereka takut bukan pada Wapres Gibran hari ini. Wapres itu tidak punya APBN, tidak punya partai besar, tidak bisa pecat menteri. Tidak menakutkan. Yang mereka takutkan adalah Gibran 2029.
Anak muda yang terus-menerus mereka sepelekan itu, kalau dibiarkan sampai 2029, akan punya:
***Umur 42 tahun. Usia emas capres.
***Dua periode eksekutif: Wali Kota Solo yang berhasil membangun, dan Wapres yang dikasih mandat eksekusi oleh atasannya serta aktif keliling.
***Narasi yang tidak bisa dilawan: "Saya tidak banyak bicara, saya kerja."
Dan itu mematikan bagi semua pemain lama. Karena di 2029, pertanyaannya bukan lagi "apakah dia layak?" Pertanyaannya adalah "siapa yang bisa mengalahkan dia?" Makanya harus disingkirkan sekarang.
Kalau dibiarkan sampai 2028, dia akan terlalu kuat. Mesinnya sudah jadi. Relawannya sudah jadi. Prestasinya sudah akan ada angkanya. Tidak bisa diserang dengan "anak kemarin sore" lagi. Karena kemarin sore itu sudah 4-9 tahun yang lalu.
Kalau diserang dengan isu korupsi atau kebijakan, tidak bisa. Karena track record Solo itu bersih. Tidak ada kasus.
Satu-satunya celah yang tersisa adalah celah administratif 2019. Celah yang bahkan tidak dilihat KPU dua kali. Celah yang kalau di negara normal akan ditertawakan: "Kalian mau diskualifikasi Wapres karena surat penyetaraannya terbit terlalu cepat dan mempermasalahkan UTS Insearch?"
Tapi celah itu harus dipakai sekarang, karena besok sudah terlambat. Makanya mereka rela mengorbankan rasa malu. Bayangkan: Seorang mantan Wakil Menteri Hukum dan HAM, seorang mantan Pimpinan KPK, seorang Profesor hukum tata negara, berkumpul dalam gugatan ke MK dengan dalil: "Surat penyetaraan Grade 12 terbit kurang dari 24 jam."
Mereka yang dulu mengajar tentang asas praduga keabsahan keputusan tata usaha negara, sekarang lupa asas itu. Mereka yang dulu bilang "jangan bawa sengketa administrasi ke MK, bawa ke PTUN", sekarang bawa sengketa administrasi ke MK karena sudah lewat 90 hari di PTUN. Mereka yang dulu menertawakan gugatan ijazah Jokowi sebagai "tidak mutu", sekarang mengajukan gugatan yang sama tidak bermutunya.
Mereka rela terlihat mengada-ada. Rela dibilang "kok urusan 24 jam dibawa ke MK?" Rela dibilang "kok pathway dipermasalahkan setelah bertahun-tahun?"
Kenapa rela? Karena kalau tidak sekarang, kapan lagi?
Kalau menunggu 2029, anak muda yang mereka sepelekan itu tidak lagi bisa disepelekan. Dia akan datang dengan angka, dengan hasil yang sudah dia bantu bangun, dengan program-program yang sudah dia bantu kawal.
Di 2029, dia bukan lagi "anaknya Jokowi". Di 2029, dia adalah "Gibran". Dan itulah yang paling mereka takuti.
Bukan takut Gibran tidak bisa kerja. Takutnya justru karena Gibran bisa kerja, dan kalau dia dibiarkan terus bekerja, panggung yang selama ini mereka kuasai dengan jargon, dengan teori, dengan dendam sejarah — panggung itu akan diambil alih oleh anak muda yang mereka sendiri terus-menerus sepelekan, yang datang hanya dengan satu kalimat: "Tenang saja, saya sudah ada di sini."😇
https://www.facebook.com/photo/?fbid=28511392435168257&set=a.1439508072783393
Reposting by POINT Consultant

