Menggoreng Ijazah Gibran Itu Cuma Permainan Politik
*Menggoreng ijazah Gibran itu cuma permainan politik.*
Tapi kalau sudah nekat menggoreng BCA? Itu namanya main-main sama kehancuran ekonomi kita sendiri. 🥲
Dasar gorengan "BCA diwajibkan beli SBN" itu dari 3 hoaks yang dicampur jadi satu:
1. Hoaks paling utama: Katanya BCA punya utang Rp60T ke negara, nyicil Rp7T/tahun, makanya wajib beli SBN terus.
BCA sudah membantah resmi ke BEI 20 Agustus 2025 lewat Corporate Secretary I Ketut Alam Wangsawijaya:
"Terkait informasi adanya utang BCA kepada negara senilai Rp60 triliun dan diangsur Rp7 triliun setiap tahunnya adalah tidak benar. Di dalam neraca, BCA memang memiliki aset obligasi pemerintah senilai Rp60 triliun. Namun keseluruhan tersebut telah selesai pada tahun 2009 sesuai ketentuan."
Jadi jelas, itu sebenernya Obligasi Rekap BLBI jaman 1998, bukan utang. Sdah lunas 2009, tapi dipelintir lagi jadi utang per saat ini.
2. Hoaks "BCA mau diambil alih 51% sahamnya oleh pemerintah / Danantara" Muncul bareng sama hoaks di atas. Katanya pemerintah mau nasionalisasi BCA gara-gara kasus BLBI. Yang bantah langsung CEO Danantara, Rosan Roeslani:
"Tidak ada ide dari Danantara dan pemerintah yang mendorong Danantara mengambil paksa 51% saham BCA. Nggak ada."
3. Hoaks "BCA dipaksa beli SBN", padahal kebalikannya. BCA itu Dealer Utama dan Mitra Distribusi resmi SBN Ritel yang ditunjuk Kemenkeu. Tugasnya menjual SBN ke nasabah.
Ditambah lagi ada berita real: BI sudah borong SBN Rp270 Triliun sejak Januari 2025 lewat skema debt switching. Hoaks disambungkan: "BI saja borong, pasti BCA juga dipaksa."
Jadi rangkaiannya:
Hoaks utang 60T + hoaks nasionalisasi 51% + fakta BCA jualan SBN + fakta BI borong SBN = jadi gorengan "BCA diwajibkan beli SBN buat talangin APBN".
Padahal OJK sudah tegas: Bank taruh dana di SBN itu wajar karena likuiditas longgar, bukan karena malas atau dipaksa.
Ini adalah percobaan mengguncang perbankan. Kenapa BCA yang dipilih? BCA itu jangkar. Dia bank swasta terbesar, Kalau BCA goyang, semua bank ikut goyang. IHSG goyang, rupiah goyang.
Sepertinya trauma 98 masih dicoba untuk ditowel. Orang masih ingat BLBI, BCA pernah di-BPPN. Jadi kalau ada yang menyebut "BLBI, utang 60T, nasionalisasi" — ada kemungkinan langsung trigger panik generasi tua. Padahal obligasi rekapnya sudah selesai 2009.
Aplagi timing-nya pas, lagi ramai PMK 67/2026 soal SAL tidak di BI lagi, BI borong SBN 270T, dan Danantara lagi aktif membereskan BUMN. Semua berita asli lalu dicampur sama hoaks, jadi keliatan kredibel.
Modus lama dicoba : Sebar fear -> orang tarik duit -> likuiditas ketat -> beneran guncang. Untung tidak berhasil, OJK, BI, dan Danantara kompak membantah dengan cepat.
Tetapi akun2 pengamat medsos masih menyelipkan dalam berbagai kolom komentar secara berkala.. Tidak langsung di badan postingan, jadi bukan serangan yang kasar dan heboh. Cara mainnya pelan, halus, tidak menyolok tetapi ADA dan menyebar.
Entah apa tujuan akun-akun tersebut. Jika karena sentimen kepada presiden dan pemerintah, apa yang menyebabkan ketidaksukaan itu bisa sedemikian besar sampai tega merisikokan kestabilan sistem keuangan negara sendiri?
Sentimen politik itu hak masing-masing. Tapi kalau nafsu politik sudah menutup akal sehat sampai tega membakar rumah sendiri, yang akan hangus bukan cuma pemerintah yang dibenci, melainkan tabungan seluruh rakyat Indonesia. Jangan mau jadi kayu bakar dari narasi yang sengaja diracik memanfaatkan trauma masa lalu.
Waspadalah. Tetap kritis, tetap pakai akal sehat
https://www.facebook.com/photo/?fbid=28523084443999056&set=a.1439508072783393
Reposting by POINT Consultant

