Indonesia Mengalami Gejala Ekonomi Inersia
Inersia dalam ekonomi / Inflasi inersia adalah situasi di mana semua harga dalam suatu perekonomian terus-menerus disesuaikan dengan indeks harga berdasarkan kekuatan kontrak.
Inersia adalah kecenderungan alami suatu benda untuk mempertahankan keadaannya baik tetap diam, maupun bergerak pada kecepatan tertentu. Inersia hanya dapat diubah apabila ada daya dorong lain yang cukup kuat untuk mengubah arah dan kecepatannya.
Akibat kondisi tersebut, Indonesia dinilai lebih terlatih untuk bertahan dibandingkan melakukan terobosan besar. Pertumbuhan ekonomi selama ini masih bertumpu pada penambahan tenaga kerja dan akumulasi modal. Pola tersebut memang mampu menjaga stabilitas pertumbuhan, namun tidak cukup kuat untuk mendorong peningkatan ekonomi yang berkelanjutan tanpa dukungan peningkatan produktivitas.
Di sisi lain, laju peningkatan produktivitas nasional masih berjalan relatif lambat. Pemanfaatan teknologi, penguatan inovasi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia belum memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Tantangan struktural juga terlihat dari komposisi perekonomian Indonesia yang masih didominasi oleh usaha mikro. Skala usaha yang kecil membatasi kemampuan pelaku usaha untuk mengadopsi teknologi, meningkatkan efisiensi produksi, serta memperluas pasar.
Selain itu, budaya menghindari risiko di berbagai lembaga publik turut memperlambat proses reformasi. Sistem insentif yang berlaku dinilai lebih menekankan kepatuhan dibandingkan pencapaian hasil, serta cenderung menghukum kegagalan alih-alih mendorong inovasi.
Untuk keluar dari jebakan tersebut, Burhanuddin menekankan perlunya langkah strategis, antara lain penindakan tegas terhadap pelanggaran hukum, reorientasi skala prioritas pembangunan, serta peningkatan kredibilitas kelembagaan.
Terkait penegakan hukum, penting memberikan kepastian dengan tetap menjunjung rasa keadilan dan menghindari kriminalisasi.
Ekonomi Indonesia menunjukkan gejala inersia, yakni kecenderungan untuk bertahan dalam kondisi yang sama. Keberhasilan menjaga stabilitas makro dan politik justru membuat perekonomian berada pada posisi seimbang, tetapi dengan tingkat akselerasi dan keberanian mengambil risiko yang rendah.
Perekonomian kita mencapai keseimbangan, tetapi dengan akselerasi dan keberanian mengambil risiko yang rendah. Kita menjadi sangat pandai bertahan, tetapi kurang terlatih untuk melakukan lompatan, dengan memberikan penekanan bahwa ketidakberanian mengambil risiko, di berbagai level jabatan dan institusi, dapat menghambat kreativitas dan inovasi.
Struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia masih didominasi oleh akumulasi faktor produksi, seperti penambahan tenaga kerja dan modal, bukan oleh peningkatan produktivitas. Pola ini dinilai mampu menjaga stabilitas, namun tidak cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkelanjutan.
Fragmentasi kelembagaan dan tingginya biaya koordinasi antarinstansi turut memperlambat transmisi kebijakan. Implementasi yang tidak merata dan mahalnya biaya kepatuhan membuat dunia usaha cenderung memilih kesinambungan dibandingkan transformasi, terutama di tengah ketidakpastian global.
Fragmentasi kelembagaan dan tingginya biaya koordinasi menyebabkan transmisi kebijakan berjalan lambat, implementasi tidak merata, dan biaya kepatuhan bagi dunia usaha menjadi tinggi.
Untuk keluar dari kondisi tersebut, Indonesia perlu dorongan kuat berupa reformasi struktural. Pentingnya penegakan hukum sebagai fondasi efisiensi ekonomi, termasuk pemberantasan korupsi dan penindakan terhadap penyalahgunaan izin serta sumber daya.
Perekonomian kita membutuhkan sebuah ‘gaya luar’ yang cukup kuat agar kita bisa keluar dari pola lama yang menghambat kemampuan ekonomi kita untuk tumbuh lebih cepat.
Selain penegakan hukum, penguatan institusi pasar dan reorientasi kebijakan ke arah peningkatan produktivitas dinilai menjadi kunci. Upaya tersebut mencakup pendalaman keterampilan tenaga kerja, difusi teknologi, serta peningkatan kapasitas manajerial. Penting peningkatan kredibilitas kelembagaan sebagai modal utama pertumbuhan.
Kepercayaan terhadap institusi adalah modal utama untuk mendorong investasi, inovasi, dan keberanian mengambil risiko produktif.
Berbagai agenda reformasi tersebut sejatinya telah tertuang dalam kerangka kebijakan pemerintah saat ini. Tantangan ke depan adalah memastikan konsistensi, fokus, dan implementasi yang kredibel agar stabilitas ekonomi yang telah dicapai dapat menjadi landasan bagi pertumbuhan yang lebih tinggi, bukan justru menjadi batasnya.
Sikap terlalu berhati-hati berakibat menghambat kreativitas dan inovasi yang dibutuhkan untuk melakukan akselerasi pertumbuhan ekonomi :
- Indonesia memang berada dalam kondisi middle income trap atau jebakan pendapatan menengah. Meski demikian,
- Indonesia optimistis Indonesia mampu kembali mencatat pertumbuhan ekonomi tinggi seperti pada era sebelumnya. Indonesia pernah merancang pertumbuhan ekonomi tinggi dengan baik dan benar.
- Indonesia pernah melakukan investasi, ekspor, dan industrialisasi yang benar.
- Tingginya biaya koordinasi serta budaya birokrasi yang cenderung menghindari risiko membuat dunia usaha sukar berkembang. Kondisi ini menahan pertumbuhan ekonomi nasional di kisaran 5 persen, level yang dinilai belum cukup untuk membawa Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi.
Inersia ekonomi belakangan ini menjadi sorotan dalam diskusi nasional, terutama pada Prasasti Economic Forum 2026 yang diadakan pada akhir Januari 2026.
Berikut adalah poin-poin utama mengenai gejala inersia yang dialami ekonomi Indonesia :
1. Apa Itu Inersia Ekonomi ?
Dalam konteks Indonesia saat ini, inersia ekonomi merujuk pada fenomena di mana pertumbuhan ekonomi "terjebak" di angka 5 persen secara terus-menerus selama bertahun-tahun. Inersia ini menunjukkan adanya hambatan struktural yang membuat ekonomi sulit melakukan "lompatan" ke level pertumbuhan yang lebih tinggi (seperti target 7-8 persen) meskipun berbagai kebijakan telah diterapkan.
2. Indikator Inersia yang Teramati
- Stagnasi Pertumbuhan: World Bank memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tetap stagnan di angka 5% hingga tahun 2026.
- Pelemahan Daya Beli: Konsumsi rumah tangga diperkirakan hanya tumbuh sekitar 4,9%. Sinyal kelesuan terlihat dari fenomena masyarakat yang mulai menggunakan tabungan untuk biaya hidup ("makan tabungan") dan penurunan indeks ketersediaan lapangan kerja.
- Sektor Manufaktur: Terjadi pelemahan pada PMI Manufaktur Indonesia akibat lemahnya permintaan domestik dan global, yang memicu gelombang PHK, terutama di sektor tekstil.
3. Penyebab Utama
Menurut para ahli dan lembaga seperti Bappenas, inersia ini disebabkan oleh beberapa faktor struktural :
- Ketergantungan Konsumsi: Lebih dari separuh ekonomi bergantung pada konsumsi rumah tangga yang kini sedang seret.
- Kurangnya Stimulus Sektor Riil: Tidak adanya momentum musiman yang kuat dan realisasi belanja pemerintah yang belum optimal menghambat percepatan pertumbuhan.
- Hambatan Infrastruktur Sosial: Diperlukan reformasi pada infrastruktur sosial dan transformasi hijau untuk keluar dari jebakan inersia ini.
Sumber Referensi :
Resume dari berbagai pemberitaan dan pendapat para pakar ekonomi
POINT Consultant


